musim selalu ingkar
Langkahmu tak mampu terkejar
Semilirmu tak lagi teraba
Walau sejumput hanya
Tubuhku kerontang
Dahagaku kian rimbun
Dari pagi hingga petang
mengharap setetes embun
Sto-mata-ku berkarat
Air kehidupan kian mampat
Udara tak lagi murni
Terkotori tercemari
Haruskah mati konyol
Dengan usaha masih nol
Tidak !
Demi harap penanamku
memetik di ujung waktu
mengisi perut tersembilu
disayat kelaparan bertalu
Aku harus tumbuh, bangkit
Menatap matahari terbit
by Pipit Mungil
270809
Minggu, 15 November 2009
Misteri Sunyi
tertatih dalam kenang menindih
meraba dinding masa yang jauh
menghitung langkah
dalam waktu tak terjamah
sendiri dalam labirin sunyi
hanya mampu menanti
dalam waktu silih berganti
mencoba menggapai asa diri
pasrah pada suratan Ilahi
"Lia by ARA"
260809
meraba dinding masa yang jauh
menghitung langkah
dalam waktu tak terjamah
sendiri dalam labirin sunyi
hanya mampu menanti
dalam waktu silih berganti
mencoba menggapai asa diri
pasrah pada suratan Ilahi
"Lia by ARA"
260809
Praja Muda Karana
coklat tua coklat muda
simbol musim di bumi persada
asduk menggantung indah di leher
tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger
tak lupa kabaret dan topi
menambah manis dan asri
siaga, penggalang, penegak
semua berdiri bersikap tegak
berbaris laksana perwira
membentuk *angkare yang diminta
semua telah siap
tiang bendera tlah tertancap kuat
dari tongkat-tongkat yang terikat
cerminan persaudaraan yang begitu lekat
tri satya terpatri dalam jiwa
dasa dharma dalam lelaku raga
satya, ku-ku dharmakan
dharma, ku-ku baktikan
agar jaya Indonesia, Indonesia
tanah airku
kami jadi pandumu
SALAM PRAMUKA !!!!
*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan
"Lia"
140809
simbol musim di bumi persada
asduk menggantung indah di leher
tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger
tak lupa kabaret dan topi
menambah manis dan asri
siaga, penggalang, penegak
semua berdiri bersikap tegak
berbaris laksana perwira
membentuk *angkare yang diminta
semua telah siap
tiang bendera tlah tertancap kuat
dari tongkat-tongkat yang terikat
cerminan persaudaraan yang begitu lekat
tri satya terpatri dalam jiwa
dasa dharma dalam lelaku raga
satya, ku-ku dharmakan
dharma, ku-ku baktikan
agar jaya Indonesia, Indonesia
tanah airku
kami jadi pandumu
SALAM PRAMUKA !!!!
*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan
"Lia"
140809
Terbiar
panas membakar
pandangan seketika nanar
tak lagi mampu kutawar
ngilu yang kian menguar
wajah lagi-lagi dibasuh memar
tak mampu tuangkan kelakar
siang panggang sekujur tak wajar
seolah mengajar tentang haus dan lapar
aku yang terbiar
masihkah kau menalar
dengan lilinmu yang memijar
akh !! aku tersasar di altar
"Lia,Ekosta,Khairud
140809
pandangan seketika nanar
tak lagi mampu kutawar
ngilu yang kian menguar
wajah lagi-lagi dibasuh memar
tak mampu tuangkan kelakar
siang panggang sekujur tak wajar
seolah mengajar tentang haus dan lapar
aku yang terbiar
masihkah kau menalar
dengan lilinmu yang memijar
akh !! aku tersasar di altar
"Lia,Ekosta,Khairud
140809
Mengejar Mimpi Di Pasar Pagi
Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut
Pada malam malam panjang
Kau telah merancang
Saat semua lena dalam mimpi
Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi
Semua masih terlelap
Jalan jalan pun lengang dan gelap
Kau lempar kantuk banting lelah
Diatas sepeda tua
Kau berpacu dengan waktu
Mengejar asa
Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela
Kau menunggu dengan sabar
Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar
Bibirmu lirih bergumam
Ikuti sayup rapal do'a dikejauhan
Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan
Wajahmu tersenyum nanar
Antara harap dan cemas
Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas
"Lia"
15 Juli '09
# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut
Pada malam malam panjang
Kau telah merancang
Saat semua lena dalam mimpi
Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi
Semua masih terlelap
Jalan jalan pun lengang dan gelap
Kau lempar kantuk banting lelah
Diatas sepeda tua
Kau berpacu dengan waktu
Mengejar asa
Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela
Kau menunggu dengan sabar
Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar
Bibirmu lirih bergumam
Ikuti sayup rapal do'a dikejauhan
Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan
Wajahmu tersenyum nanar
Antara harap dan cemas
Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas
"Lia"
15 Juli '09
# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran
Kabut Di Kaki Argopuro
Jerit ketakutan membaur dengan
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”
Amarah yang kau nyanyikan
Lewat tangisan diterang, kegelapan
mencipta kabut berkepanjangan
Puing-puing berserakan
Karena hempasanmu semalaman
Sisakan luka dalam isakan
Pendar mentari semu
Tawarkan hangat kelabu
Mencoba tepiskan luka
Dengan berbagai tipu daya
Namun..
Kabut dikakimu tetap bergeming
Mengakar dalam urat bumi
Terpancang kuat dalam sanubari
"Pipit Mungil"
04 August 2009
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”
Amarah yang kau nyanyikan
Lewat tangisan diterang, kegelapan
mencipta kabut berkepanjangan
Puing-puing berserakan
Karena hempasanmu semalaman
Sisakan luka dalam isakan
Pendar mentari semu
Tawarkan hangat kelabu
Mencoba tepiskan luka
Dengan berbagai tipu daya
Namun..
Kabut dikakimu tetap bergeming
Mengakar dalam urat bumi
Terpancang kuat dalam sanubari
"Pipit Mungil"
04 August 2009
Sabtu, 08 Agustus 2009
Buruh Tani
“Dalam tiap ayunan,
terperah darah demi sekeping impian”
Berdiri hadapi hamparan
Ukir guludan banyak ragam
Lempak masuk tanah keluar
Semenjak fajar selalu begitu
Lempar kantuk kesampingkan lelah
Hingga petang baru berhenti
Lelah penat tak lagi terperi
Demi asik mengukir bumi
Cipta harta yang bukan milik sendiri
Harta tuan tanah sang majikan
Harta sendiri hanya tenaga
Tenaga badan ditiap ayunan
"Lia"
terperah darah demi sekeping impian”
Berdiri hadapi hamparan
Ukir guludan banyak ragam
Lempak masuk tanah keluar
Semenjak fajar selalu begitu
Lempar kantuk kesampingkan lelah
Hingga petang baru berhenti
Lelah penat tak lagi terperi
Demi asik mengukir bumi
Cipta harta yang bukan milik sendiri
Harta tuan tanah sang majikan
Harta sendiri hanya tenaga
Tenaga badan ditiap ayunan
"Lia"
Serumpun Asa
"Kutitipkan mimpi,
ku gadaikan darah dan belulang
pada batang padi"
Kusingkal dan kucangkul tempat semaimu
Kulumat bakal ilalang yang kan menggodamu
Kuratakan, kuhaluskan dan kualirkan air kesejukan
Hingga embriomu menggelian nyaman
Aku tersenyum, dadaku membusung
Saat keping lembagamu menyembul
Kian hijau, segar bak perawan gunung
Harapanku kian melambung
Membayangkan kau kan penuh mengisi lumbung
Membantuku ringankan kebutuhan yang kian membumbung
Hingga anak dan istriku tak lagi termenung
Detik-detik memetikmu kian dekat
Anai-anai pun ku asah lebih cepat
Namun aku tercekat
Saat daun benderamu berkarat
Bulir-bulirmu yang keemasan berubah coklat
Karna musim yang tak lagi mampu ku dekap
Hama penyakit yang tak lagi mati oleh obat
oh serumpun asaku
Akankah selalu seperti ini
Aku tetap miskin dinegeri sendiri
Tetap buruh di tanah Ibu sendiri
"Lia"
ku gadaikan darah dan belulang
pada batang padi"
Kusingkal dan kucangkul tempat semaimu
Kulumat bakal ilalang yang kan menggodamu
Kuratakan, kuhaluskan dan kualirkan air kesejukan
Hingga embriomu menggelian nyaman
Aku tersenyum, dadaku membusung
Saat keping lembagamu menyembul
Kian hijau, segar bak perawan gunung
Harapanku kian melambung
Membayangkan kau kan penuh mengisi lumbung
Membantuku ringankan kebutuhan yang kian membumbung
Hingga anak dan istriku tak lagi termenung
Detik-detik memetikmu kian dekat
Anai-anai pun ku asah lebih cepat
Namun aku tercekat
Saat daun benderamu berkarat
Bulir-bulirmu yang keemasan berubah coklat
Karna musim yang tak lagi mampu ku dekap
Hama penyakit yang tak lagi mati oleh obat
oh serumpun asaku
Akankah selalu seperti ini
Aku tetap miskin dinegeri sendiri
Tetap buruh di tanah Ibu sendiri
"Lia"
Jumat, 07 Agustus 2009
Jendela Pagi
Dalam sepoi angin
kurasa hangat seakan menanti
dalam gericik air malam
kurasa sunyi seakan bernyanyi
sunyi hangat dalam damaiku
cinta kasih menelungkupi jendela pagi
Abadi yang terlupa
karena peristiwa-peristiwa biasa
sebuah rasa kadang terlempar
pada dunia
pada asa di dada
hingga tibalah saat dalam masa
kembali, ada dalam abadi
---------------------------
----------------
5 Juli 2009
Inspiring Catatan Hudanosch Hudan, (21) kwek lin, sayuri yosiana, zuraidah abdul aziz- negeri jauh:mati
"Iwan Gunawan"
kurasa hangat seakan menanti
dalam gericik air malam
kurasa sunyi seakan bernyanyi
sunyi hangat dalam damaiku
cinta kasih menelungkupi jendela pagi
Abadi yang terlupa
karena peristiwa-peristiwa biasa
sebuah rasa kadang terlempar
pada dunia
pada asa di dada
hingga tibalah saat dalam masa
kembali, ada dalam abadi
---------------------------
----------------
5 Juli 2009
Inspiring Catatan Hudanosch Hudan, (21) kwek lin, sayuri yosiana, zuraidah abdul aziz- negeri jauh:mati
"Iwan Gunawan"
Minggu, 26 Juli 2009
Tawa Sekilas Duka Membekas
"SEMARAK"
Kata pertama yang terlontar dari otak
Sepanjang jalan protokol, dusun dan kampung
mulai berkibar bendera warna warni dan lampu hias tersusun
umbul umbul iklan produk ikut beraksi dan manggung
Tapi kenapa hatiku tak sesemarak suasana kotaku
Kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun
Semarak pesta kemerdekaan terus di usung
Semua tertawa gembira
Walau harus keluarkan kocek tuk selembar bendera
Padahal tuk makan masih butuh biaya
Tapi apa mau dikata
Diwajibkan sih katanya
Pekik merdeka berkumandang dimana mana
Dari media ke media
Dari mulut punggawa hingga kawula
Anak anak muda mudi riang gembira
Sambut hiburan yang saat saat tertentu saja
Pesta keperdekaan pun usai
Kotaku kembali hening dan sepi
Riang tawa seperti kembali terkunci
"ah..tawa semu merdeka
kamuflase hati pilu yang sebenar terpenjara"
Apa bedanya dengan pesta demokrasi
Semarak dan gempitanya sama
Rakyat tertawa bahagia dalam harap
terlambungkan dengan janji janji manis calon pewaris tahta
Amat yakin dan pasti
Hanya karena selembar merah bersayap
"yach...apa mau dikata
trik politik yang amat mengena
menyerang jiwa jiwa yang sedang sengsara
menahan rasa lapar dan dahaga"
Puncak pesta pun digelar
Semua berbondong bondong tentukan pilihan
Satu nama yang sudah disematkan
Sebulan dua bulan, setahun dua tahun
Tawa yang semula berderai tinggal senyuman dikulum
Harap yang begitu melambung
Hanya tinggal tetesan embun
Akan terus beginikah ?
Pekik merdeka dalam hidup terpenjara
Orasi sang penguasa hanya onani belaka
"Lia"
16 Juli '09
Bangsa yang sudah merdeka tapi sebenarnya belum merdeka
Dulu melawan bambu runcing dan keris
sekarang melawan bankir dan produk produk kapitalis
Kata pertama yang terlontar dari otak
Sepanjang jalan protokol, dusun dan kampung
mulai berkibar bendera warna warni dan lampu hias tersusun
umbul umbul iklan produk ikut beraksi dan manggung
Tapi kenapa hatiku tak sesemarak suasana kotaku
Kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun
Semarak pesta kemerdekaan terus di usung
Semua tertawa gembira
Walau harus keluarkan kocek tuk selembar bendera
Padahal tuk makan masih butuh biaya
Tapi apa mau dikata
Diwajibkan sih katanya
Pekik merdeka berkumandang dimana mana
Dari media ke media
Dari mulut punggawa hingga kawula
Anak anak muda mudi riang gembira
Sambut hiburan yang saat saat tertentu saja
Pesta keperdekaan pun usai
Kotaku kembali hening dan sepi
Riang tawa seperti kembali terkunci
"ah..tawa semu merdeka
kamuflase hati pilu yang sebenar terpenjara"
Apa bedanya dengan pesta demokrasi
Semarak dan gempitanya sama
Rakyat tertawa bahagia dalam harap
terlambungkan dengan janji janji manis calon pewaris tahta
Amat yakin dan pasti
Hanya karena selembar merah bersayap
"yach...apa mau dikata
trik politik yang amat mengena
menyerang jiwa jiwa yang sedang sengsara
menahan rasa lapar dan dahaga"
Puncak pesta pun digelar
Semua berbondong bondong tentukan pilihan
Satu nama yang sudah disematkan
Sebulan dua bulan, setahun dua tahun
Tawa yang semula berderai tinggal senyuman dikulum
Harap yang begitu melambung
Hanya tinggal tetesan embun
Akan terus beginikah ?
Pekik merdeka dalam hidup terpenjara
Orasi sang penguasa hanya onani belaka
"Lia"
16 Juli '09
Bangsa yang sudah merdeka tapi sebenarnya belum merdeka
Dulu melawan bambu runcing dan keris
sekarang melawan bankir dan produk produk kapitalis
Kamis, 16 Juli 2009
Penantian
Jenjang penantian tlah berlumut
Lesakkan rindu dalam kabut
Kian lama merejam badan memagut
Serpihan rindu berbalik melingkupi sukma
Menggigit mencabik
Berdarah darah manis menghitam
Bak madu yang meracuni
Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang benang penantian
Sembilu sayat menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tiada bertepi
"Lia"
Lesakkan rindu dalam kabut
Kian lama merejam badan memagut
Serpihan rindu berbalik melingkupi sukma
Menggigit mencabik
Berdarah darah manis menghitam
Bak madu yang meracuni
Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang benang penantian
Sembilu sayat menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tiada bertepi
"Lia"
Jejak Cinta
Kusibak tirai dinding hatimu
Tak nampak satu huruf pun namaku terukir disana
Pedih tiba tiba di sebalik dada
Perlahan kutelusuri bilik hatimu
Tak satupun jejak langkah tertinggal
Kian perih rasa disebalik dada
Aku bertahan
Kusingkap pelan tabir relung hatimu
Samar kulihat jejak jejak indah
Berkelebat di pelupuk mata
Ada secercah harap
Tepiskan pedih palung jiwa
Tidak tidak...
Jejak itu bukan langkahku
Bukan bukan....
Tanda cinta itu juga bukan untukku
Pedih perih membentuk luka
Basah memerah
Hempas telaga di sudut mata
Terkoyak sudah rajutan asa
"Lia"
10 Juli '09
Pipit mungil terbang menukik langit
Menggapai sisa harap yang tergantung disana
Tiba tiba sayapnya patah
Pipit pun jatuh menimpa bumi
Berkalang tanah
Tak nampak satu huruf pun namaku terukir disana
Pedih tiba tiba di sebalik dada
Perlahan kutelusuri bilik hatimu
Tak satupun jejak langkah tertinggal
Kian perih rasa disebalik dada
Aku bertahan
Kusingkap pelan tabir relung hatimu
Samar kulihat jejak jejak indah
Berkelebat di pelupuk mata
Ada secercah harap
Tepiskan pedih palung jiwa
Tidak tidak...
Jejak itu bukan langkahku
Bukan bukan....
Tanda cinta itu juga bukan untukku
Pedih perih membentuk luka
Basah memerah
Hempas telaga di sudut mata
Terkoyak sudah rajutan asa
"Lia"
10 Juli '09
Pipit mungil terbang menukik langit
Menggapai sisa harap yang tergantung disana
Tiba tiba sayapnya patah
Pipit pun jatuh menimpa bumi
Berkalang tanah
Cinta Yang Hilang
Semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun diujung dedaun
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku Ku si burung hantu
Suasana malam yang kian pekat nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu
Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh
Mengintip dari celah jendela kamarku
Dia pun terlihat agak sendu
Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku
Oh rembulan
Tahukah engkau diujung langit mana dia terbang
Tak satupun nampak jejak juga bayang
Masihkah rindu ini harus ku genggam
Hingga sampai saat itu menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah pergi
Ku hanya ingin bertatap
Walau hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati
Dan sirna dari hati ini
Namun dia tetap bertahta di palung sanubari
"Lia" 13 Juli '09
Lahirkan titik titik embun diujung dedaun
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku Ku si burung hantu
Suasana malam yang kian pekat nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu
Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh
Mengintip dari celah jendela kamarku
Dia pun terlihat agak sendu
Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku
Oh rembulan
Tahukah engkau diujung langit mana dia terbang
Tak satupun nampak jejak juga bayang
Masihkah rindu ini harus ku genggam
Hingga sampai saat itu menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah pergi
Ku hanya ingin bertatap
Walau hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati
Dan sirna dari hati ini
Namun dia tetap bertahta di palung sanubari
"Lia" 13 Juli '09
Selasa, 14 Juli 2009
Nurani VS Telinga
# Nurani berkata...
Hei telinga......
Kamu hebat ya...
Bisa mendengar yang dikatakan mereka
Padahal kamu disamping sedangkan aku didepan
Adanya kamu disisiku
Membantuku memahami permasalahan mereka
Hingga keputusanku berkeadilan
Hei telinga.....
Buka kedua pintumu lebar lebar
Banyak banyaklah mendengar lalu bawa padaku
Jangan kamu masukkan dari pintu kanan
Kemudian kau keluarkan dari pintu kirimu
Begitu berharganya dirimu
Maka peliharalah organmu baik baik
Karena aku membutuhkanmu
Hei Telinga......
Ada apa denganmu........???
Badanmu panas...
Pintumu kau sumpal kapas...
Adakah kau tidak sehat...???
Mungkin kamu tlah berlebihan...
Mendengar hal hal yang tak patut kau dengar
Hingga organmu kegerahan
Lalu rusak dan sia sia
Hei Telinga...
Lakukanlah segera
Perbaikilah dirimu dan bertobatlah...
# Telinga menjawab...
Hei Nurani...
Aku selalu menemanimu
Membantumu mendengar apa yang tak mampu kau dengar
Apa yang tak patut kumasukkan ke dalam tubuhmu
Langsung aku keluarkan dari pintuku yang sebelah
Karnaku kau bisa lebih bijak mengambil keputusan
Tak hanya berdasrkan penglihatan kawanku si MATA
Tapi mengapa nurani...???
Kau biarkan manusia dengan tangannya membersihkanku tipa saat
Aku tahu...karena kau menikmati sensasinya kan..???
Padahal tanpa sadar tangan itu melukai tubuhku
Kadang kau turutkan juga keinginan MATA tuk melihat maksiat
Hingga ku pun turut mendengarkan walau tak mau
Apa...???
Kau suruh aku bertobat nurani...???
Kau yang seharusnya segera bertobat
Bukan aku atau kawanku yang lainnya
Karena keinginan terkutukmulah kami jadi korban
Ingatlah wahai Nurani...
Aku dan kawanku yang lain akan menjadi saksi
Semua perbuatan yang kau lakukan di bumi
Dan kau takkan mampu membela diri
Karna kawanku si BIBIR seksi kan dibungkam
Suara merdunya tak kan lagi diperdengarkan
Camkan kata kataku
"Lia by Ronny"
Hei telinga......
Kamu hebat ya...
Bisa mendengar yang dikatakan mereka
Padahal kamu disamping sedangkan aku didepan
Adanya kamu disisiku
Membantuku memahami permasalahan mereka
Hingga keputusanku berkeadilan
Hei telinga.....
Buka kedua pintumu lebar lebar
Banyak banyaklah mendengar lalu bawa padaku
Jangan kamu masukkan dari pintu kanan
Kemudian kau keluarkan dari pintu kirimu
Begitu berharganya dirimu
Maka peliharalah organmu baik baik
Karena aku membutuhkanmu
Hei Telinga......
Ada apa denganmu........???
Badanmu panas...
Pintumu kau sumpal kapas...
Adakah kau tidak sehat...???
Mungkin kamu tlah berlebihan...
Mendengar hal hal yang tak patut kau dengar
Hingga organmu kegerahan
Lalu rusak dan sia sia
Hei Telinga...
Lakukanlah segera
Perbaikilah dirimu dan bertobatlah...
# Telinga menjawab...
Hei Nurani...
Aku selalu menemanimu
Membantumu mendengar apa yang tak mampu kau dengar
Apa yang tak patut kumasukkan ke dalam tubuhmu
Langsung aku keluarkan dari pintuku yang sebelah
Karnaku kau bisa lebih bijak mengambil keputusan
Tak hanya berdasrkan penglihatan kawanku si MATA
Tapi mengapa nurani...???
Kau biarkan manusia dengan tangannya membersihkanku tipa saat
Aku tahu...karena kau menikmati sensasinya kan..???
Padahal tanpa sadar tangan itu melukai tubuhku
Kadang kau turutkan juga keinginan MATA tuk melihat maksiat
Hingga ku pun turut mendengarkan walau tak mau
Apa...???
Kau suruh aku bertobat nurani...???
Kau yang seharusnya segera bertobat
Bukan aku atau kawanku yang lainnya
Karena keinginan terkutukmulah kami jadi korban
Ingatlah wahai Nurani...
Aku dan kawanku yang lain akan menjadi saksi
Semua perbuatan yang kau lakukan di bumi
Dan kau takkan mampu membela diri
Karna kawanku si BIBIR seksi kan dibungkam
Suara merdunya tak kan lagi diperdengarkan
Camkan kata kataku
"Lia by Ronny"
Obrolan Fajar
Huuuft...malam kian pekat
Mengantarkan seluruh penghuni jadat dalam lelap
Membuai mereka dalam dunia mimpi
Tapi dia tetap bergeming
Walau mataku tak lelap sekejap pun
Iseng ku buka FB lewat HP
Kubuka sebuah puisi
Tanpa sadar jemariku menari menakan tust huruf
Mencoba menuangkan fantasi liar di otakku
1 #
Mengapa harus terdiam
Kala hati meronta berteriak tak tahan
Tenggelam diantara gemerlap cahaya semu memabukkan
Mengapa aku tetap lena
Walau sebenar ku rasa aura ketidak adilan
Apakah kesadaranku kan tiba
Kala kakek renta yang kau lihat benar-benar
Meletakkan lubang makam itu di pangkuanku...??
# Penulis Berkata
Oh kata-kata lihatlah :
Jika kakek renta yang kau lihat, benar benar
Meletakkan lubang makam dipangkuanku...
Bulan telah jatuh kepangkuanmu Yulia
Bulan hitam dari hujan hitam dari Tuhan hitam
Hari hari hitam hendaklah jangan pergi dari pangkuanmu
Agar aku lesap di sana
Oh...indahnya...oh...kelamnya dunia
2 #
Aku tertegun mencoba mencerna makna kata katanya
Imaji kembali menuntun ibu jari
Menekan huruf satu persatu
"bulan hitam bertabur cahaya
Penuh gurat suka cita tercipta
Hujan hitam yang tercipta
Membawa kesejahteraan semesta
Tuhan hitam dunia kegelapan pembawa pelita"
Haruskah aku bersyukur...???
Atau kembali menjadi orang kufur....???
Oh kata kata...
Merinding aku di buatnya
Jawab tanyaku yang kian meronta
3 #
Gema azdan menyentak
Imajiku menggeliat enggan
Tuk kembali keperadapan dunia FANA yang MAYA
Bertarung diantara iblis iblis tampan nan rupawan
Bertabur rayuan manis penuh kutukan
Wahai Sang Dewi malam
Rengkuhlah tubuhku dalam kedamaian
Duhai rahim Ibunda
Lesakkanlah kembali ragaku disana
Hingga ku tenang dan damai dalam kesucian
"Lia"
Pipit munngil tak lagi mungil
Mengantarkan seluruh penghuni jadat dalam lelap
Membuai mereka dalam dunia mimpi
Tapi dia tetap bergeming
Walau mataku tak lelap sekejap pun
Iseng ku buka FB lewat HP
Kubuka sebuah puisi
Tanpa sadar jemariku menari menakan tust huruf
Mencoba menuangkan fantasi liar di otakku
1 #
Mengapa harus terdiam
Kala hati meronta berteriak tak tahan
Tenggelam diantara gemerlap cahaya semu memabukkan
Mengapa aku tetap lena
Walau sebenar ku rasa aura ketidak adilan
Apakah kesadaranku kan tiba
Kala kakek renta yang kau lihat benar-benar
Meletakkan lubang makam itu di pangkuanku...??
# Penulis Berkata
Oh kata-kata lihatlah :
Jika kakek renta yang kau lihat, benar benar
Meletakkan lubang makam dipangkuanku...
Bulan telah jatuh kepangkuanmu Yulia
Bulan hitam dari hujan hitam dari Tuhan hitam
Hari hari hitam hendaklah jangan pergi dari pangkuanmu
Agar aku lesap di sana
Oh...indahnya...oh...kelamnya dunia
2 #
Aku tertegun mencoba mencerna makna kata katanya
Imaji kembali menuntun ibu jari
Menekan huruf satu persatu
"bulan hitam bertabur cahaya
Penuh gurat suka cita tercipta
Hujan hitam yang tercipta
Membawa kesejahteraan semesta
Tuhan hitam dunia kegelapan pembawa pelita"
Haruskah aku bersyukur...???
Atau kembali menjadi orang kufur....???
Oh kata kata...
Merinding aku di buatnya
Jawab tanyaku yang kian meronta
3 #
Gema azdan menyentak
Imajiku menggeliat enggan
Tuk kembali keperadapan dunia FANA yang MAYA
Bertarung diantara iblis iblis tampan nan rupawan
Bertabur rayuan manis penuh kutukan
Wahai Sang Dewi malam
Rengkuhlah tubuhku dalam kedamaian
Duhai rahim Ibunda
Lesakkanlah kembali ragaku disana
Hingga ku tenang dan damai dalam kesucian
"Lia"
Pipit munngil tak lagi mungil
Senin, 13 Juli 2009
Soil
Uugh....Tubuhku jadi asam
Akibat tangisan langit semalaman
Kini kian asam
Saat kau sebarkan UREA perlahan
Hanjriit.....
Tiap musim bertambah
Hingga mencapai tujuh *Kw per hektar
Pantas.....
Wajahku terasa kaku, retak dan mengeras
Kau jejali mulutku dengan sampah
Kau paksa aku menelan rangkaian senyawa beracun
Hingga **residu nya menggerogoti ragaku
kini ku mati dan impotent
Tak mampu membuat ASA mu menghijau
Hingga kembali kau jejali mulutku
Dengan literan senyawa-senyawa ***alkalis
Mikroba, cacing dan jasad renik yang lain tersingkir
Kalah bersaing dengan produk para bankir
Kalian tak sadar
Tlah jadikanku sampah peradapan
Untuk generasimu mendatang
* Kwintal
** Sisa / racun
*** Senyawa keras / Basa
"Lia..Pipit Mungil"
Akibat tangisan langit semalaman
Kini kian asam
Saat kau sebarkan UREA perlahan
Hanjriit.....
Tiap musim bertambah
Hingga mencapai tujuh *Kw per hektar
Pantas.....
Wajahku terasa kaku, retak dan mengeras
Kau jejali mulutku dengan sampah
Kau paksa aku menelan rangkaian senyawa beracun
Hingga **residu nya menggerogoti ragaku
kini ku mati dan impotent
Tak mampu membuat ASA mu menghijau
Hingga kembali kau jejali mulutku
Dengan literan senyawa-senyawa ***alkalis
Mikroba, cacing dan jasad renik yang lain tersingkir
Kalah bersaing dengan produk para bankir
Kalian tak sadar
Tlah jadikanku sampah peradapan
Untuk generasimu mendatang
* Kwintal
** Sisa / racun
*** Senyawa keras / Basa
"Lia..Pipit Mungil"
Embrio
Aku menggeliat
Menendang dinding *pericarp yang liat
Walau hanya dengan tetesan embun
Yang meresap ke pori-pori kulit
Aku harus tumbuh
Mencari cahaya mentari
Ringankan beban petani
Aku harus bertahan
Meski keping lembagaku tercabik tak karuan
Di koyak serangga-serangga jahanam
Ku tak mau petani kian kecut
Merogoh kocek dari dompet yang kusut
Tuk menyulamku yang terenggut maut
*Kulit biji
"Lia"
Menendang dinding *pericarp yang liat
Walau hanya dengan tetesan embun
Yang meresap ke pori-pori kulit
Aku harus tumbuh
Mencari cahaya mentari
Ringankan beban petani
Aku harus bertahan
Meski keping lembagaku tercabik tak karuan
Di koyak serangga-serangga jahanam
Ku tak mau petani kian kecut
Merogoh kocek dari dompet yang kusut
Tuk menyulamku yang terenggut maut
*Kulit biji
"Lia"
Ratap Jalanan
Jatahku kau sunat
Takaranku kau perhemat
Aku tercabik semburat
Saat menahan beban berat
Guyuran hujan menambah sekarat
Mencipta liang-liang sesat
Penggunaku mengumpat
Sumpah serapah terucap
Tatkala ia terjengkang hebat
Tak sedikit nyawa terenggut
Saat roda masuk liang maut
Ratakan aku
Sumpal liangku dengan mulut rakusmu
Aku takkan pernah mulus
Selagi otakmu seperti bulus
"Lia"
Takaranku kau perhemat
Aku tercabik semburat
Saat menahan beban berat
Guyuran hujan menambah sekarat
Mencipta liang-liang sesat
Penggunaku mengumpat
Sumpah serapah terucap
Tatkala ia terjengkang hebat
Tak sedikit nyawa terenggut
Saat roda masuk liang maut
Ratakan aku
Sumpal liangku dengan mulut rakusmu
Aku takkan pernah mulus
Selagi otakmu seperti bulus
"Lia"
Semestaku Mangkat
Terik matahari menyengat ubun-ubun
Gerah menyelimuti, raga bermandi peluh
Bumi retak berdebu
Pohon-pohon meranggas pilu
Peradaban dunia turut berubah
Pria atau wanita tiada pasti
Cinta, puisi dan nada sirna
Caci maki khianat meraja
Oh.....
Bumiku berkarat
Langitku tergantung menunggu tenggat
Samudra melesak keperut bumi
Hutan terpaksa gadaikan diri jadi sahara
Hai...jasad-jasad mati
Sadarlah...bangkitlah dari mati surimu
Asahlah rasamu dengan samurai tertajam dunia
Lihatlah....
Semesta kita tlah sekarat
Sakit menahun turun temurun
Bertahan berkorban demi kalian
Menunggu obat yang tak kunjung datang
Bilakah semestaku kan mangkat
1000 tahun..?? 100 tahun..?? 10 tahun..??
Ataukah esok hari...???
Dan saat itu tiba sesalpun tak berarti
"Lia-Pipit mungil"
19 Juni 2009
Gerah menyelimuti, raga bermandi peluh
Bumi retak berdebu
Pohon-pohon meranggas pilu
Peradaban dunia turut berubah
Pria atau wanita tiada pasti
Cinta, puisi dan nada sirna
Caci maki khianat meraja
Oh.....
Bumiku berkarat
Langitku tergantung menunggu tenggat
Samudra melesak keperut bumi
Hutan terpaksa gadaikan diri jadi sahara
Hai...jasad-jasad mati
Sadarlah...bangkitlah dari mati surimu
Asahlah rasamu dengan samurai tertajam dunia
Lihatlah....
Semesta kita tlah sekarat
Sakit menahun turun temurun
Bertahan berkorban demi kalian
Menunggu obat yang tak kunjung datang
Bilakah semestaku kan mangkat
1000 tahun..?? 100 tahun..?? 10 tahun..??
Ataukah esok hari...???
Dan saat itu tiba sesalpun tak berarti
"Lia-Pipit mungil"
19 Juni 2009
Kemarau
Semilir anginmu hadirkan tawa riang
Lambungkan layang-layang di angkasa benderang
Terik mentarimu panjang menyengat
Merangsang kelopak bunga tuk kembang
Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu
Pacu generatif hijauan tuk bercumbu
Ciptakan benih-benih yang di tunggu
Saat malam menjelang
Langit pun terang penuh gemintang
Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran
Nikmati malam bermandikan rembulan
Saat fajar menjelang
Sang bayu berhembus lembab
Dingin menusuk tulang
Lahirkan titik-titik embun menggairahkan
Namun....
Masamu yang panjang
Membuat bumiku gersang
Sumur-sumur kering kerontang
Sungai-sungai bagai cawan sariawan
Leher-leher mamanjang menahan kehausan
Rerumputan menguning sekarat
Lumut-lumut tinggal kerak
Kami menyebutmu paceklik
Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik
Panas sinarmu bak pemantik
Hasilkan percikan api membara
Membakar hutan-hutan di bumi persada
Kemarau....
Bawa suka dan duka tiada terperi
Duka yang bukan kau maui
Tapi akibat ulah kami sendiri
"Lia or Pipit Mungil"
Semoga kemarau kali ini baik-baik saja
Tak ada asap disumatra, kalimantan dan sekitarnya
Tak ada kekeringan lagi...amin...
Lambungkan layang-layang di angkasa benderang
Terik mentarimu panjang menyengat
Merangsang kelopak bunga tuk kembang
Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu
Pacu generatif hijauan tuk bercumbu
Ciptakan benih-benih yang di tunggu
Saat malam menjelang
Langit pun terang penuh gemintang
Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran
Nikmati malam bermandikan rembulan
Saat fajar menjelang
Sang bayu berhembus lembab
Dingin menusuk tulang
Lahirkan titik-titik embun menggairahkan
Namun....
Masamu yang panjang
Membuat bumiku gersang
Sumur-sumur kering kerontang
Sungai-sungai bagai cawan sariawan
Leher-leher mamanjang menahan kehausan
Rerumputan menguning sekarat
Lumut-lumut tinggal kerak
Kami menyebutmu paceklik
Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik
Panas sinarmu bak pemantik
Hasilkan percikan api membara
Membakar hutan-hutan di bumi persada
Kemarau....
Bawa suka dan duka tiada terperi
Duka yang bukan kau maui
Tapi akibat ulah kami sendiri
"Lia or Pipit Mungil"
Semoga kemarau kali ini baik-baik saja
Tak ada asap disumatra, kalimantan dan sekitarnya
Tak ada kekeringan lagi...amin...
Langganan:
Postingan (Atom)