Minggu, 15 November 2009

Harapan Ladang Jagung

musim selalu ingkar

Langkahmu tak mampu terkejar

Semilirmu tak lagi teraba

Walau sejumput hanya



Tubuhku kerontang

Dahagaku kian rimbun

Dari pagi hingga petang

mengharap setetes embun



Sto-mata-ku berkarat

Air kehidupan kian mampat

Udara tak lagi murni

Terkotori tercemari



Haruskah mati konyol

Dengan usaha masih nol



Tidak !



Demi harap penanamku

memetik di ujung waktu

mengisi perut tersembilu

disayat kelaparan bertalu



Aku harus tumbuh, bangkit

Menatap matahari terbit




by Pipit Mungil
270809

Misteri Sunyi

tertatih dalam kenang menindih

meraba dinding masa yang jauh

menghitung langkah

dalam waktu tak terjamah




sendiri dalam labirin sunyi

hanya mampu menanti

dalam waktu silih berganti

mencoba menggapai asa diri

pasrah pada suratan Ilahi




"Lia by ARA"
260809

Praja Muda Karana

coklat tua coklat muda

simbol musim di bumi persada

asduk menggantung indah di leher

tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger

tak lupa kabaret dan topi

menambah manis dan asri



siaga, penggalang, penegak

semua berdiri bersikap tegak

berbaris laksana perwira

membentuk *angkare yang diminta



semua telah siap

tiang bendera tlah tertancap kuat

dari tongkat-tongkat yang terikat

cerminan persaudaraan yang begitu lekat



tri satya terpatri dalam jiwa

dasa dharma dalam lelaku raga

satya, ku-ku dharmakan

dharma, ku-ku baktikan

agar jaya Indonesia, Indonesia

tanah airku

kami jadi pandumu


SALAM PRAMUKA !!!!


*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan


"Lia"
140809

Terbiar

panas membakar

pandangan seketika nanar

tak lagi mampu kutawar

ngilu yang kian menguar



wajah lagi-lagi dibasuh memar

tak mampu tuangkan kelakar

siang panggang sekujur tak wajar

seolah mengajar tentang haus dan lapar



aku yang terbiar

masihkah kau menalar

dengan lilinmu yang memijar

akh !! aku tersasar di altar


"Lia,Ekosta,Khairud
140809

Mengejar Mimpi Di Pasar Pagi

Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut






Pada malam malam panjang

Kau telah merancang

Saat semua lena dalam mimpi

Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi



Semua masih terlelap

Jalan jalan pun lengang dan gelap

Kau lempar kantuk banting lelah

Diatas sepeda tua

Kau berpacu dengan waktu

Mengejar asa

Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela



Kau menunggu dengan sabar

Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar

Bibirmu lirih bergumam

Ikuti sayup rapal do'a dikejauhan

Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan

Wajahmu tersenyum nanar

Antara harap dan cemas

Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas



"Lia"
15 Juli '09



# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran

Kabut Di Kaki Argopuro

Jerit ketakutan membaur dengan
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”



Amarah yang kau nyanyikan

Lewat tangisan diterang, kegelapan

mencipta kabut berkepanjangan



Puing-puing berserakan

Karena hempasanmu semalaman

Sisakan luka dalam isakan



Pendar mentari semu

Tawarkan hangat kelabu

Mencoba tepiskan luka

Dengan berbagai tipu daya



Namun..

Kabut dikakimu tetap bergeming

Mengakar dalam urat bumi

Terpancang kuat dalam sanubari



"Pipit Mungil"
04 August 2009

Sabtu, 08 Agustus 2009

Buruh Tani

“Dalam tiap ayunan,
terperah darah demi sekeping impian”


Berdiri hadapi hamparan

Ukir guludan banyak ragam

Lempak masuk tanah keluar



Semenjak fajar selalu begitu

Lempar kantuk kesampingkan lelah

Hingga petang baru berhenti

Lelah penat tak lagi terperi



Demi asik mengukir bumi

Cipta harta yang bukan milik sendiri

Harta tuan tanah sang majikan

Harta sendiri hanya tenaga

Tenaga badan ditiap ayunan


"Lia"

Serumpun Asa

"Kutitipkan mimpi,
ku gadaikan darah dan belulang
pada batang padi"



Kusingkal dan kucangkul tempat semaimu

Kulumat bakal ilalang yang kan menggodamu

Kuratakan, kuhaluskan dan kualirkan air kesejukan

Hingga embriomu menggelian nyaman



Aku tersenyum, dadaku membusung

Saat keping lembagamu menyembul

Kian hijau, segar bak perawan gunung



Harapanku kian melambung

Membayangkan kau kan penuh mengisi lumbung

Membantuku ringankan kebutuhan yang kian membumbung

Hingga anak dan istriku tak lagi termenung


Detik-detik memetikmu kian dekat

Anai-anai pun ku asah lebih cepat

Namun aku tercekat

Saat daun benderamu berkarat

Bulir-bulirmu yang keemasan berubah coklat

Karna musim yang tak lagi mampu ku dekap

Hama penyakit yang tak lagi mati oleh obat



oh serumpun asaku

Akankah selalu seperti ini

Aku tetap miskin dinegeri sendiri

Tetap buruh di tanah Ibu sendiri


"Lia"

Jumat, 07 Agustus 2009

Jendela Pagi

Dalam sepoi angin
kurasa hangat seakan menanti

dalam gericik air malam
kurasa sunyi seakan bernyanyi

sunyi hangat dalam damaiku
cinta kasih menelungkupi jendela pagi

Abadi yang terlupa
karena peristiwa-peristiwa biasa

sebuah rasa kadang terlempar
pada dunia
pada asa di dada
hingga tibalah saat dalam masa
kembali, ada dalam abadi

---------------------------
----------------

5 Juli 2009
Inspiring Catatan Hudanosch Hudan, (21) kwek lin, sayuri yosiana, zuraidah abdul aziz- negeri jauh:mati

"Iwan Gunawan"

Minggu, 26 Juli 2009

Tawa Sekilas Duka Membekas

"SEMARAK"

Kata pertama yang terlontar dari otak

Sepanjang jalan protokol, dusun dan kampung
mulai berkibar bendera warna warni dan lampu hias tersusun
umbul umbul iklan produk ikut beraksi dan manggung
Tapi kenapa hatiku tak sesemarak suasana kotaku


Kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun
Semarak pesta kemerdekaan terus di usung
Semua tertawa gembira
Walau harus keluarkan kocek tuk selembar bendera
Padahal tuk makan masih butuh biaya
Tapi apa mau dikata
Diwajibkan sih katanya

Pekik merdeka berkumandang dimana mana
Dari media ke media
Dari mulut punggawa hingga kawula
Anak anak muda mudi riang gembira
Sambut hiburan yang saat saat tertentu saja
Pesta keperdekaan pun usai
Kotaku kembali hening dan sepi
Riang tawa seperti kembali terkunci

"ah..tawa semu merdeka
kamuflase hati pilu yang sebenar terpenjara"

Apa bedanya dengan pesta demokrasi
Semarak dan gempitanya sama
Rakyat tertawa bahagia dalam harap
terlambungkan dengan janji janji manis calon pewaris tahta
Amat yakin dan pasti
Hanya karena selembar merah bersayap

"yach...apa mau dikata
trik politik yang amat mengena
menyerang jiwa jiwa yang sedang sengsara
menahan rasa lapar dan dahaga"

Puncak pesta pun digelar
Semua berbondong bondong tentukan pilihan
Satu nama yang sudah disematkan

Sebulan dua bulan, setahun dua tahun
Tawa yang semula berderai tinggal senyuman dikulum
Harap yang begitu melambung
Hanya tinggal tetesan embun

Akan terus beginikah ?
Pekik merdeka dalam hidup terpenjara
Orasi sang penguasa hanya onani belaka


"Lia"
16 Juli '09

Bangsa yang sudah merdeka tapi sebenarnya belum merdeka
Dulu melawan bambu runcing dan keris
sekarang melawan bankir dan produk produk kapitalis

Kamis, 16 Juli 2009

Penantian

Jenjang penantian tlah berlumut
Lesakkan rindu dalam kabut
Kian lama merejam badan memagut

Serpihan rindu berbalik melingkupi sukma
Menggigit mencabik
Berdarah darah manis menghitam
Bak madu yang meracuni

Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang benang penantian
Sembilu sayat menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tiada bertepi

"Lia"

Jejak Cinta

Kusibak tirai dinding hatimu
Tak nampak satu huruf pun namaku terukir disana
Pedih tiba tiba di sebalik dada

Perlahan kutelusuri bilik hatimu
Tak satupun jejak langkah tertinggal
Kian perih rasa disebalik dada

Aku bertahan
Kusingkap pelan tabir relung hatimu
Samar kulihat jejak jejak indah
Berkelebat di pelupuk mata
Ada secercah harap
Tepiskan pedih palung jiwa

Tidak tidak...
Jejak itu bukan langkahku
Bukan bukan....
Tanda cinta itu juga bukan untukku

Pedih perih membentuk luka
Basah memerah
Hempas telaga di sudut mata
Terkoyak sudah rajutan asa

"Lia"
10 Juli '09

Pipit mungil terbang menukik langit
Menggapai sisa harap yang tergantung disana
Tiba tiba sayapnya patah
Pipit pun jatuh menimpa bumi
Berkalang tanah

Cinta Yang Hilang

Semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun diujung dedaun
Jangkrik bersiul merdu

Sayup suara Ku Ku si burung hantu

Suasana malam yang kian pekat nan senyap

Temaniku dalam pilu


Aku tergugu
Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh
Mengintip dari celah jendela kamarku

Dia pun terlihat agak sendu

Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku

Oh rembulan

Tahukah engkau diujung langit mana dia terbang

Tak satupun nampak jejak juga bayang

Masihkah rindu ini harus ku genggam
Hingga sampai saat itu menjelang


Aku mencintainya sepenuh hati

Amat merinduinya meski telah pergi

Ku hanya ingin bertatap

Walau hanya sekejap

Namun itu takkan mungkin terjadi

Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati

Dan sirna dari hati ini

Namun dia tetap bertahta di palung sanubari



"Lia" 13 Juli '09

Selasa, 14 Juli 2009

Nurani VS Telinga

# Nurani berkata...

Hei telinga......
Kamu hebat ya...
Bisa mendengar yang dikatakan mereka
Padahal kamu disamping sedangkan aku didepan
Adanya kamu disisiku
Membantuku memahami permasalahan mereka
Hingga keputusanku berkeadilan

Hei telinga.....
Buka kedua pintumu lebar lebar
Banyak banyaklah mendengar lalu bawa padaku
Jangan kamu masukkan dari pintu kanan
Kemudian kau keluarkan dari pintu kirimu
Begitu berharganya dirimu
Maka peliharalah organmu baik baik
Karena aku membutuhkanmu

Hei Telinga......
Ada apa denganmu........???
Badanmu panas...
Pintumu kau sumpal kapas...
Adakah kau tidak sehat...???
Mungkin kamu tlah berlebihan...
Mendengar hal hal yang tak patut kau dengar
Hingga organmu kegerahan
Lalu rusak dan sia sia

Hei Telinga...
Lakukanlah segera
Perbaikilah dirimu dan bertobatlah...


# Telinga menjawab...

Hei Nurani...
Aku selalu menemanimu
Membantumu mendengar apa yang tak mampu kau dengar
Apa yang tak patut kumasukkan ke dalam tubuhmu
Langsung aku keluarkan dari pintuku yang sebelah
Karnaku kau bisa lebih bijak mengambil keputusan
Tak hanya berdasrkan penglihatan kawanku si MATA

Tapi mengapa nurani...???
Kau biarkan manusia dengan tangannya membersihkanku tipa saat
Aku tahu...karena kau menikmati sensasinya kan..???
Padahal tanpa sadar tangan itu melukai tubuhku
Kadang kau turutkan juga keinginan MATA tuk melihat maksiat
Hingga ku pun turut mendengarkan walau tak mau

Apa...???
Kau suruh aku bertobat nurani...???
Kau yang seharusnya segera bertobat
Bukan aku atau kawanku yang lainnya
Karena keinginan terkutukmulah kami jadi korban

Ingatlah wahai Nurani...
Aku dan kawanku yang lain akan menjadi saksi
Semua perbuatan yang kau lakukan di bumi
Dan kau takkan mampu membela diri
Karna kawanku si BIBIR seksi kan dibungkam
Suara merdunya tak kan lagi diperdengarkan
Camkan kata kataku

"Lia by Ronny"

Obrolan Fajar

Huuuft...malam kian pekat
Mengantarkan seluruh penghuni jadat dalam lelap
Membuai mereka dalam dunia mimpi
Tapi dia tetap bergeming
Walau mataku tak lelap sekejap pun

Iseng ku buka FB lewat HP
Kubuka sebuah puisi
Tanpa sadar jemariku menari menakan tust huruf
Mencoba menuangkan fantasi liar di otakku

1 #

Mengapa harus terdiam
Kala hati meronta berteriak tak tahan
Tenggelam diantara gemerlap cahaya semu memabukkan
Mengapa aku tetap lena
Walau sebenar ku rasa aura ketidak adilan

Apakah kesadaranku kan tiba
Kala kakek renta yang kau lihat benar-benar
Meletakkan lubang makam itu di pangkuanku...??

# Penulis Berkata

Oh kata-kata lihatlah :

Jika kakek renta yang kau lihat, benar benar
Meletakkan lubang makam dipangkuanku...

Bulan telah jatuh kepangkuanmu Yulia
Bulan hitam dari hujan hitam dari Tuhan hitam
Hari hari hitam hendaklah jangan pergi dari pangkuanmu
Agar aku lesap di sana
Oh...indahnya...oh...kelamnya dunia

2 #

Aku tertegun mencoba mencerna makna kata katanya
Imaji kembali menuntun ibu jari
Menekan huruf satu persatu

"bulan hitam bertabur cahaya
Penuh gurat suka cita tercipta
Hujan hitam yang tercipta
Membawa kesejahteraan semesta
Tuhan hitam dunia kegelapan pembawa pelita"

Haruskah aku bersyukur...???
Atau kembali menjadi orang kufur....???

Oh kata kata...
Merinding aku di buatnya
Jawab tanyaku yang kian meronta

3 #

Gema azdan menyentak
Imajiku menggeliat enggan
Tuk kembali keperadapan dunia FANA yang MAYA
Bertarung diantara iblis iblis tampan nan rupawan
Bertabur rayuan manis penuh kutukan

Wahai Sang Dewi malam
Rengkuhlah tubuhku dalam kedamaian
Duhai rahim Ibunda
Lesakkanlah kembali ragaku disana
Hingga ku tenang dan damai dalam kesucian

"Lia"
Pipit munngil tak lagi mungil

Senin, 13 Juli 2009

Soil

Uugh....Tubuhku jadi asam
Akibat tangisan langit semalaman
Kini kian asam
Saat kau sebarkan UREA perlahan

Hanjriit.....
Tiap musim bertambah
Hingga mencapai tujuh *Kw per hektar
Pantas.....
Wajahku terasa kaku, retak dan mengeras

Kau jejali mulutku dengan sampah
Kau paksa aku menelan rangkaian senyawa beracun
Hingga **residu nya menggerogoti ragaku
kini ku mati dan impotent
Tak mampu membuat ASA mu menghijau
Hingga kembali kau jejali mulutku
Dengan literan senyawa-senyawa ***alkalis
Mikroba, cacing dan jasad renik yang lain tersingkir
Kalah bersaing dengan produk para bankir

Kalian tak sadar
Tlah jadikanku sampah peradapan
Untuk generasimu mendatang

* Kwintal
** Sisa / racun
*** Senyawa keras / Basa

"Lia..Pipit Mungil"

Embrio

Aku menggeliat
Menendang dinding *pericarp yang liat
Walau hanya dengan tetesan embun
Yang meresap ke pori-pori kulit
Aku harus tumbuh
Mencari cahaya mentari
Ringankan beban petani

Aku harus bertahan
Meski keping lembagaku tercabik tak karuan
Di koyak serangga-serangga jahanam
Ku tak mau petani kian kecut
Merogoh kocek dari dompet yang kusut
Tuk menyulamku yang terenggut maut



*Kulit biji

"Lia"

Ratap Jalanan

Jatahku kau sunat
Takaranku kau perhemat
Aku tercabik semburat
Saat menahan beban berat
Guyuran hujan menambah sekarat
Mencipta liang-liang sesat

Penggunaku mengumpat
Sumpah serapah terucap
Tatkala ia terjengkang hebat
Tak sedikit nyawa terenggut
Saat roda masuk liang maut

Ratakan aku
Sumpal liangku dengan mulut rakusmu
Aku takkan pernah mulus
Selagi otakmu seperti bulus

"Lia"

Semestaku Mangkat

Terik matahari menyengat ubun-ubun
Gerah menyelimuti, raga bermandi peluh
Bumi retak berdebu
Pohon-pohon meranggas pilu

Peradaban dunia turut berubah
Pria atau wanita tiada pasti
Cinta, puisi dan nada sirna
Caci maki khianat meraja

Oh.....
Bumiku berkarat
Langitku tergantung menunggu tenggat
Samudra melesak keperut bumi
Hutan terpaksa gadaikan diri jadi sahara

Hai...jasad-jasad mati
Sadarlah...bangkitlah dari mati surimu
Asahlah rasamu dengan samurai tertajam dunia

Lihatlah....
Semesta kita tlah sekarat
Sakit menahun turun temurun
Bertahan berkorban demi kalian
Menunggu obat yang tak kunjung datang

Bilakah semestaku kan mangkat
1000 tahun..?? 100 tahun..?? 10 tahun..??
Ataukah esok hari...???
Dan saat itu tiba sesalpun tak berarti

"Lia-Pipit mungil"
19 Juni 2009

Kemarau

Semilir anginmu hadirkan tawa riang
Lambungkan layang-layang di angkasa benderang
Terik mentarimu panjang menyengat
Merangsang kelopak bunga tuk kembang
Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu
Pacu generatif hijauan tuk bercumbu
Ciptakan benih-benih yang di tunggu

Saat malam menjelang
Langit pun terang penuh gemintang
Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran
Nikmati malam bermandikan rembulan

Saat fajar menjelang
Sang bayu berhembus lembab
Dingin menusuk tulang
Lahirkan titik-titik embun menggairahkan

Namun....
Masamu yang panjang
Membuat bumiku gersang
Sumur-sumur kering kerontang
Sungai-sungai bagai cawan sariawan
Leher-leher mamanjang menahan kehausan

Rerumputan menguning sekarat
Lumut-lumut tinggal kerak
Kami menyebutmu paceklik
Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik

Panas sinarmu bak pemantik
Hasilkan percikan api membara
Membakar hutan-hutan di bumi persada

Kemarau....
Bawa suka dan duka tiada terperi
Duka yang bukan kau maui
Tapi akibat ulah kami sendiri

"Lia or Pipit Mungil"

Semoga kemarau kali ini baik-baik saja
Tak ada asap disumatra, kalimantan dan sekitarnya
Tak ada kekeringan lagi...amin...