Senin, 16 November 2009

Sayang

Sayang, gerah jarak seperti membangun rindu dari biji ingatan
malam dan hujan berderap cahaya lampu berpagutan dengan hujan
aku di bawahnya membawa sekeranjang sepi
sembab mataku berjalan menujumu jantung dan hati berbagi sunyi
sayang, aku laki laki disusui purnama berlarian di semesta
mengukir langit dengan mataku
bila aku tak sampai padamu malam ini berikan rongga rindu untukku
biar aku ada dalam ingatanmu yang semakin senja


by : SAF

Sebatang Coklat Rindu

Kala rindu mengiris kalbu
Ku beli dua batang coklat di warung biru
Satu untukku, satu untukmu


Satu untukku, satu untukmu
Dua-dua nya aku yang makan
Biar jarak tau, dia bukan persoalan
Biar dia malu mengganggu kita melulu


Satu persatu kunikmati perlahan
Sampai di jantung
Sampai di hati
Sampai di dalam tubuh kita
Dalam hati jadi cinta dan ikatan
Dalam jantung jadi do'a dan harapan
Dalam tubuh jadi kita dan kekuatan


"Kutitipkan rindu pada sebatang coklat untukmu"


"Lia by SAF"
August '09

Minggu, 15 November 2009

Harapan Ladang Jagung

musim selalu ingkar

Langkahmu tak mampu terkejar

Semilirmu tak lagi teraba

Walau sejumput hanya



Tubuhku kerontang

Dahagaku kian rimbun

Dari pagi hingga petang

mengharap setetes embun



Sto-mata-ku berkarat

Air kehidupan kian mampat

Udara tak lagi murni

Terkotori tercemari



Haruskah mati konyol

Dengan usaha masih nol



Tidak !



Demi harap penanamku

memetik di ujung waktu

mengisi perut tersembilu

disayat kelaparan bertalu



Aku harus tumbuh, bangkit

Menatap matahari terbit




by Pipit Mungil
270809

Misteri Sunyi

tertatih dalam kenang menindih

meraba dinding masa yang jauh

menghitung langkah

dalam waktu tak terjamah




sendiri dalam labirin sunyi

hanya mampu menanti

dalam waktu silih berganti

mencoba menggapai asa diri

pasrah pada suratan Ilahi




"Lia by ARA"
260809

Praja Muda Karana

coklat tua coklat muda

simbol musim di bumi persada

asduk menggantung indah di leher

tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger

tak lupa kabaret dan topi

menambah manis dan asri



siaga, penggalang, penegak

semua berdiri bersikap tegak

berbaris laksana perwira

membentuk *angkare yang diminta



semua telah siap

tiang bendera tlah tertancap kuat

dari tongkat-tongkat yang terikat

cerminan persaudaraan yang begitu lekat



tri satya terpatri dalam jiwa

dasa dharma dalam lelaku raga

satya, ku-ku dharmakan

dharma, ku-ku baktikan

agar jaya Indonesia, Indonesia

tanah airku

kami jadi pandumu


SALAM PRAMUKA !!!!


*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan


"Lia"
140809

Terbiar

panas membakar

pandangan seketika nanar

tak lagi mampu kutawar

ngilu yang kian menguar



wajah lagi-lagi dibasuh memar

tak mampu tuangkan kelakar

siang panggang sekujur tak wajar

seolah mengajar tentang haus dan lapar



aku yang terbiar

masihkah kau menalar

dengan lilinmu yang memijar

akh !! aku tersasar di altar


"Lia,Ekosta,Khairud
140809

Mengejar Mimpi Di Pasar Pagi

Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut






Pada malam malam panjang

Kau telah merancang

Saat semua lena dalam mimpi

Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi



Semua masih terlelap

Jalan jalan pun lengang dan gelap

Kau lempar kantuk banting lelah

Diatas sepeda tua

Kau berpacu dengan waktu

Mengejar asa

Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela



Kau menunggu dengan sabar

Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar

Bibirmu lirih bergumam

Ikuti sayup rapal do'a dikejauhan

Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan

Wajahmu tersenyum nanar

Antara harap dan cemas

Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas



"Lia"
15 Juli '09



# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran

Kabut Di Kaki Argopuro

Jerit ketakutan membaur dengan
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”



Amarah yang kau nyanyikan

Lewat tangisan diterang, kegelapan

mencipta kabut berkepanjangan



Puing-puing berserakan

Karena hempasanmu semalaman

Sisakan luka dalam isakan



Pendar mentari semu

Tawarkan hangat kelabu

Mencoba tepiskan luka

Dengan berbagai tipu daya



Namun..

Kabut dikakimu tetap bergeming

Mengakar dalam urat bumi

Terpancang kuat dalam sanubari



"Pipit Mungil"
04 August 2009