Minggu, 12 September 2010

Secuplik Cinta di Pulau Dewata





Cerpen : Lia Salsabila


“UBUNG terakhir….Ubung terakhir.” Aku tergeragap bangun, melihat pergelangan tangan. Masih jam 5 pagi.
Turun dari bus yang membawaku dari kota Blambangan semalam, seorang pria separuh baya menghampiri. “Mau ke mana, neng?” tanyanya.
“Ke jalan Mertasari, Sanur, Pak. Tapi saya mau shalat dulu.” Aku bergegas mencari mushalla terdekat.
Usai shalat aku kembali ke terminal. Masih bingung, karena baru pertama kali menginjakkan kaki di kota dengan keindahan terkenal ke mancanegara ini. “Hmmm….Pulau Dewata , sampai juga aku di tanahmu,” gumamku dalam hati.
Pria tadi yang ternyata supir taksi kembali menghampiri, “Bagaimana, neng? Mau saya antar?” Aku mengangguk.
Kami tawar menawar harga, dan sepakat. Tak lama aku sudah di dalam taksi, meluncur di jalanan Kota Denpasar di pagi yang masih lengang. Tatanan kota begitu asri. Bangunan-bangunan khas lengkap dengan tugu-tugu berpayung di depannya membuatku kian tertarik .
“Pak, bangunan seperti tugu berpayung itu, apa ya? Kenapa hampir di tiap rumah ada?” tanyaku penasaran.
“Itu pura, neng. Tempat pemujaan kami, umat Hindu. Di tiap rumah pasti ada, meski hanya sebagai replika dari pura yang lebih besar. Misalnya replika dari Pura Besakih,” jawab bapak supir taksi itu.
Ooo… jadi itulah pura yang pernah kubaca atau kudengar ceritanya, batinku, sambil tetap memperhatikan deretan rumah dengan pura di depannya.
“Mertasari berapa neng?” pertanyaan pak supir mengagetkan keasyikanku. Aku menyebutkan sebuah nomor.
Di depan gerbang berwarna biru taksi berhenti. “Sudah sampai, neng,” ujar supir taksi itu lagi. Bergegas aku membayar ongkos taksi, lalu turun dan berjalan ke gerbang yang tertutup rapat.
Ketika aku masuk, terlihat bangunan besar seperti gudang dan sebuah rumah mirip kantor. Tempat ini begitu lengang, pikirku. Agak lama aku berdiri mematung di depan bangunan rumah itu, memperhatikan pura yang cukup besar lengkap dengan sesajen di sekitarnya. Tiba-tiba, “Cari siapa, mbak?” sebuah suara menegurku.
“Emm..saya mau ketemu Pak Handoko, mas,” jawabku.
“Tunggu saja di kursi panjang itu, mbak. Jam 8 baru dia datang.”
Aku duduk di kursi yang ditunjuk pemuda tadi. Kalau dilihat dari logatnya sepertinya dia asli orang Bali.
Sudah jam 8, tapi Pak Handoko belum juga kelihatan. Gudang yang tadi sepi sudah hidup dengan aktivitas para pekerja.
Hampir jam 9 saat kulihat seorang berbadan tinggi besar menghampiriku. Dia tersenyum, “Mbak Liana ya?”
“Iya,” jawabku.
“Saya Handoko, HRD di sini,” ia memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku. “Saya dapat kabar dari Mr. Jefry jika mbak tiba hari ini. Selamat datang, mbak.”
“Terimakasih, Pak,” jawabku sambil tersenyum.
Jabatanku lumayan, sebagai Quality Control yang bertugas menjaga kualitas semua barang di perusahaan ini. Perusahaan distributor sayuran. Pelanggannya hotel-hotel, kafe dan mall. Jumlah karyawan sekitar 25 orang, semua baik dan ramah. Ada Wayan, Rangga, Yusuf, Gusti, Paulina, dll. Untung, karena sikapku, aku langsung akrab dengan mereka.
Bulan pertama di Pulau Dewata begitu berat. Aku harus adaptasi, terutama dengan cuaca. Baru seminggu kerja sudah sakit. Huuft.. Ditambah lagi harus menghafal nama semua jenis sayuran di gudang pendingin yang kebanyakan belum pernah kulihat. Namanya bikin aku susah. Ada lolobionda, red okleaf, green okleaf, mizuna, lolorosa, baby bean, dll. Yang paling menyiksa, rindu yang kian menggunung pada sepotong hati nun jauh di sana. Adakah dia juga rindu? Tapi aku sedikit terhibur, dan bisa melupakan semua beban, berkat dua makhluk ganteng bernama Rangga dan Gusti. Aku terkesan dengan sikap mereka. Rangga dengan sejuta misterinya yang seolah tak terjamah. Gusti dengan sejuta perhatian, kelembutan serta senyuman mautnya. Tapi kembali aku teringat pada tambatan hati yang begitu jauh. Sejumput air terasa bergulir dari bola mataku.
Aku bekerja 6 hari dalam seminggu. Tiap hari bekerja 8 jam. Selain cek barang, kadang juga ikut mengantar barang ke pelanggan, sekalian survei. Seperti pagi ini, aku harus ikut ke Nusa Dua dengan Rangga. Aku senang bukan main. Kalau sendirian pasti aku sudah lompat-lompat.
Kami pun berangkat setelah semua barang orderan masuk mobil. Ini pertama kalinya aku pergi berdua dengan Rangga. Seperti biasa dia diam seribu bahasa. Matanya fokus ke jalanan. Wajahnya tanpa senyum. Bête banget jadinya.
Kunikmati pemandangan sepanjang jalan ke Nusa Dua dalam diam. Melihat pura-pura berjajar, rasa ingin tahuku semakin besar. Kuingat sopir taksi yang mengantarku dulu. “Bapak yang baik,” batinku. Tiba-tiba aku jadi sedih. “Arrghh…kenapa Rangga tak seramah dia? Bukankah dia bisa juga bercerita tentang pura padaku?” rintihku dalam hati. Sesekali aku curi pandang ke arahnya. Hmm.. makin ganteng kalau dilihat dari dekat. Tapi ada sesuatu di sana yang begitu sulit aku artikan.

Wajah itu begitu tegas namun lembut
Mata itu meneduhkan namun ada gurat luka di sana
Bibir tanpa senyum, penuh misteri

Aku tinggal di mess perusahaan. Setiap 2 hari sekali aku harus cek barang kiriman dari Kawah Ijen, kebun perusahaan, yang datangnya jam 1 pagi. Aku di mess bersama 7 orang lainnya. Semua laki-laki, termasuk Rangga dan Gusti. Di antara mereka berdua, aku lebih dekat dengan Gusti. Gusti selalu mengantarku ke mana-mana. Dia ramah, lembut, penuh perhatian hingga aku nyaman bersamanya. Karena kedekatanku dengan Gusti, muncul gosip kalau kami berpacaran. Dan Rangga seolah tak peduli dengan gossip itu. Rangga semakin penuh misteri. Tapi kenapa kadang aku begitu yakin kalau dia suka padaku. Hufft.., kenapa dia tak sebaik Gusti dan yang lainnya, rutukku.
Sore ini aku berencana ke Sanur dengan Gusti. Sekitar jam 17.00 WITA kami berangkat. Di gerbang kulihat Rangga melangkah masuk.
“Hei Ga, ikut yuk ke Sanur,” sapaku.
“Enggak ah. Malas, ntar mengganggu lagi,” jawabnya.
”Iya enggak lah, Ga,” kataku. Dia langsung pergi tanpa menjawab. Sekilas kulihat ada kilat amarah di matanya. Wajahnya makin keras. Ada gurat kecewa di sana. Mungkinkah dia cemburu? Ah, tak mungkin, pikirku.
Di perjalanan kunikmati lagi rumah-rumah dengan bangunan pura di depannya. Mengingatkanku pada perbincangan dengan supir taksi yang mengantarku dulu.
“Liana, kita sudah sampai nich. Ayo turun,” seru Gusti membuyarkan lamunanku. Kami melangkah ke pantai.
“Ramai juga ya kak, pantainya. Ke dermaga itu yuk,” ajakku ke Gusti yang memang dari awal kupanggil kakak. Bergegas kami menuju dermaga. Banyak pasangan muda-mudi yang juga menikmati indahnya suasana pantai.
“Mas-mu sudah telpon, Liana?” Gusti tiba-tiba bertanya.
“Belum, kak. Ini sudah seminggu. Aku sms nggak dibalas, aku telpon nggak aktif.”
Gusti diam. Lalu, “Sabar ya, mungkin mas-mu memang sibuk,” ujarnya. Aku mengangguk.
“Eh, Rangga tadi kenapa ya. Kok begitu, seperti nggak suka kita jalan. Jangan-jangan dia naksir Liana tuch, hehe..,” ujarnya lagi.
“Jangan asal dech, kak. Nggak mungkinlah,” jawabku.
Kami nikmati keindahan pantai Sanur hingga malam tiba.
“Sudah malam. Pulang yuk,” ajakku. Kami pun pulang dalam diam.
Aku makin betah di perusahaan ini, di kota ini. Semua begitu baik padaku, terutama Gusti yang semakin perhatian. Kecuali Rangga. Dia tetap cuek penuh misteri. Dari mbak Paulina aku tahu kalau dia pernah patah hati. Aku makin penasaran dan agak tersinggung karena dia nyaris tak pernah menganggapku. Sialan…, umpatku dalam hati.
“Liana, kamu dicari Rangga tuch,” kata Yusuf. Rangga tampak tergesa menghampiriku.
“Ada apa, Ga? Serius banget,” ujarku.
“Ikut aku ke Hard Café, mereka complain.” Rangga terlihat tegang.
“Sekarang, Ga?” tanyaku.
“Tahun depan… Iya, sekaranglah. Ayo, buruan.” Tanpa menunggu jawabanku dia berjalan ke mobil. Meski dongkol, aku bergegas mengikutinya. Kami berangkat hanya berdua.
“Apa complain-nya, Ga?” tanyaku. Rangga tetap bungkam seribu bahasa. Aku makin dongkol dengan sikap Rangga.
Tak sampai 15 menit kami sampai di Hard Café. Rangga bergegas masuk tanpa sepatah kata pun. Aku mengekor di belakang dengan perasaan tak menentu.
Tiba-tiba, “Bagaimana ini, Mas. Jual lettuce atau ulat sich?!” teriak kepala koki Hard café. “Untung belum disuguhkan ke tamu. Bisa rugi kami,” rentetnya penuh emosi.
“Kami mohon maaf, Pak, atas kelalaian ini,” ujar Rangga tenang. “Kami akan ganti, dan untuk lettucenya digratiskan,” lanjut Rangga.
Rangga bergegas keluar. Dan masuk lagi dengan beberapa bungkus lettuce di tangan.
Kejadian itu begitu cepat. Sebagai seorang Quality Control, ada sejumput rasa malu menyerangku. Lettuce itu seperti lepas dari pengawasan. Tapi untung ada Rangga, yang bertindak cepat dan tepat. Meski tanpa minta persetujuanku. Aku dibuat tercengang. Lebih tepatnya, terpesona pada ketenangan dan keramahan Rangga yang belum pernah kulihat. “Ya Tuhan, aku semakin tertawan” rintihku.
Sebenarnya aku sudah terikat janji dengan sepotong hati nun jauh di sana. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Namun aku mulai ragu padanya. Semenjak aku di Pulau Dewata dia jarang telepon. Dalihnya, sibuk kerja dan tidak ada waktu. Hhmmm, bagaimanapun aku jadi bimbang. Apalagi di sini ada Gusti yang selalu perhatian, dan Rangga yang membuat aku penasaran. Sepotong hatiku makin tidak jelas rasanya. Aku mesti bagaimana?
Malam ini mataku masih terbuka lebar. Tak ada tanda-tanda sedikitpun akan terlelap. Besok sore aku akan berangkat ke Kawah Ijen. Setelah 4 bulan di sini, aku dipindahkan ke kawasan pegunungan di daerah Bondowoso, Jawa Timur itu. Untuk mengontrol kualitas hasil sayuran di sana. Entah untuk berapa lama. Bayangan wajah Rangga menjadi penghuni tetap hatiku malam ini. Dan mata Rangga semakin terlihat kelam.
“Liana, ikut aku yuk,” Rangga berkata lembut sekali.
“Ke mana?”
“Ayolah, nanti kamu pasti tahu.”
Aku pun naik ke atas motor yang dipakai Rangga. Katanya, lebih asyik pakai motor. Karena itu ia tidak membawa mobil.
15 menit kemudian di depanku menghampar keindahan pantai Sanur. Ombaknya berdebur pelan dengan riak-riak kecil. Allahu Akbar, sungguh pemandangan yang amat indah. Terasa jauh lebih indah dibanding ketika aku ke sini bersama Gusti.
Aku turun dari motor. Tiba-tiba Rangga menggandeng tanganku. Aku terkejut, tak bisa berbuat apapun ketika dia membimbingku menuju tepian pantai. Wajahnya begitu lembut. Matanya teramat teduh, seakan aku ingin tenggelam di dalamnya.
“Liana.. Jujur, sebenarnya aku suka padamu. Aku mulai mencintaimu.”
Aku terkejut. Bibirku ternganga lebar. Benarkah yang aku dengar?
Belum sempat Rangga melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba, kringggg! Aku tersentak. Jam 5 pagi. Ya Allah, ternyata semua itu hanya mimpi.
Siang itu aku begitu sibuk mengurus keberangkatanku. Pamit sama teman-teman, bercanda dengan Gusti yang seolah tak mau jauh sedikitpun dariku, dan melupakan sosok Rangga yang memang tak nampak sejak tadi. Kata teman-teman, ia sudah pergi dari pagi. Tidak tahu ke mana. Aku sedih, namun hanya sesaat. Karena aku kembali sibuk dengan semua persiapan, dan juga rapat dengan Mr. Jefry.
Tepat jam 3 sore aku bersiap berangkat. Mobil travel sudah datang. Barang-barang sudah dinaikkan ke dalam mobil oleh Yusuf. Semua sahabatku ada di sini. Wayan, Yusuf, Gusti, dan mbak Paulina. Mereka mengantar kepergianku. Gusti menatap nanar. Penuh harap aku celingukan mencari Rangga. Namun lagi-lagi dia tak tampak. Seolah mengerti apa yang aku cari, mbak Paulina berseru, “Dia belum pulang, Liana.”
“Hmmm, iya mbak. Nggak apa-apa. Salam buat dia, ya mbak.”
Dengan berat hati aku masuk ke dalam mobil. Ketika sampai di gerbang, aku terkejut karena ada yang mengetuk kaca jendela.
Ya Allah, wajah itu adalah Rangga. Penuh keringat dan semakin dingin terlihat. Namun ada sesungging senyum kecil di bibirnya. Tak jauh di belakang Rangga, di luar gerbang, tampak sebuah taksi. Agaknya Rangga datang dengan taksi itu.
“Eh, iya Ga. Ada apa,” kataku terbata.
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau mengucapkan selamat jalan saja kok,” jawabnya. Nada bicaranya datar. “Maafkan jika aku punya salah.”
“Sama-sama, Ga,” jawabku. Kemudian dia memberiku sebuah lipatan kertas berwarna biru.
“Apa ini, Ga?” tanyaku.
“Baca saja.” Dia pun menepi karena mobil mulai bergerak. Aghh…, tatapan mata itu begitu lekat dan kelam.
Melewati taksi itu, aku langsung mengenal supirnya. “Itu taksi yang mengantarku dulu,” kataku pada supir mobil travel langganan perusahaan yang membawaku.
“O.., itu bapaknya Rangga, neng,” ujar pak supir travel. Aku tercekat. Ohhh! Ingatanku melayang pada Rangga dan bapaknya. Seperti sebuah lingkaran yang bergerak mengitariku.
Sampai di Gilimanuk aku baru membuka kertas pemberian Rangga. Aku penasaran apa sebenarnya yang dia tulis.

Dear Liana.
Wajah mungilmu seolah begitu rapuh. Namun ada sesuatu di sana. Kekuatan besar yang entah, aku tak tahu itu apa. Matamu sayu, namun begitu kuat menyedot sukmaku. Kata-katamu begitu lugas dan tegas, bagai senandung indah nan merdu. Tanpa sadar aku mulai jatuh, luruh menatap wajahmu, tenggelam dalam tatap mata yang begitu sendu. Setiap kata dan ceritamu seolah menyihirku, membawaku dalam kelenaan panjang ketika menikmati senandung yang kau nyanyikan.
Liana.., aku mencintaimu.
Maaf aku tak mampu mengungkapkannya. Hanya ini yang mampu aku buat dan berikan untukmu.
Maafkan sikapku selama ini.

Aku terhenyak. Tanpa terasa air mataku mengalir. Ya Allah, mengapa harus seperti ini jalan hidup yang kujalani. Andai aku membuka surat ini lebih awal. Aku hanya berdoa dalam hati, jika memang kami berjodoh insyaAllah akan ada jalan yang mempertemukan kami kembali.
Dari kapal feri yang kutumpangi, kulihat pulau Dewata semakin jauh dan mengecil.



Pulau Dewata penuh kenangan
Romansa cinta tak terungkapkan
Tempat sepotong hati pernah singgah
Menunggu diriku tuk memetiknya indah


@@@


Januari ‘10


Cerpen pertama

Resah




Oleh : Lia Salsabila


Pada sunyi
Kutitip resah


Pada langit
Kugantung mendung


Tak ingin tumpah
Air hujan gelisah


Tak ingin rindu
Mengombak menggulung


Semilir berhembus basah
Belai jiwa yang gerah


Dalam hening yang bisu
Kunanti lembut sapamu
Detik kemenit
Menit ke jam
Harapanku padam


Pada dinding malam
Kucoba mencari bayang
Wajahmu yang tak bisa hilang
Menari dalam ingatan

Lungrah dalam tilam sunyi
Menanti dan terus menanti



Tilam sunyi
260909

Air Mata di Hari Fitri




Oleh : Lia Salsabila


Waktu bergulir cepat
bulan penuh berkah pun lewat
gema takbir mengalun bersahutan
sambut datangnya hari kemenangan

Perasaanku campur aduk
saat haru, sedih dan bahagia memeluk
haru, ramadhan berlalu pergi
sedih takut tak bersua kembali
bahagia karena tiba hari tuk kembali suci

Namun, terasa ada yang berbeda
Malam ini kurasa tak begitu ceria
riuh bedug di mushalla
tak mampu usir gulana

Dua kali gempa buatku gelisah
menggoyang kotaku bak ayunan saja
aku panik tak terkira, bertanya tanya
bagaimana mereka yang di pusat gempa

Membayang,
Jerit ketakutan erang kesakitan
Menyatu dengan gemuruh reruntuhan

Dan kini, bagaimana lebaran mereka
Jangankan pakaian baru dan kue hidangan
Untuk makan saja menunggu belas kasihan
Sedang rumah pun tinggal puing berserakan

Ya Allah
Peringatanmu datang bertubi tubi
Tetap saja kami tenggelam dalam nikmat semu duniawi
Akankah Engkau mendatangkan peringatan lebih dahsyat lagi

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Laa ilaaha illallahu allahuakbar
Allahuakbar walillahilhamd

Hujan menetes dari kelopak sendu
Saat kulantunkan takbir elukan asmaMu
Berharap hati bersih selalu
Hingga kutetap melangkah di jalanMu


hamparan sajadah
190909

Selamat Malam Sayang





Oleh : Lia Salsabila


Selamat malam sayang
Lelaplah dalam dekap malam
Rasakan cinta dalam kesunyian
Walau hanya tersampaikan lewat
Nyanyian usang

Selamat malam sayang
Nyenyaklah dalam peluk malam
Rasakan semesta berbisik
Pada angin, bintang, dan rembulan
Tentang kedamaian yang tak terusik

Selamat malam sayang
Mari lelap dalam hening malam
Rasakan kedamaian mengalun
Pada ayat ayat langit berkumandang
Sampaikan kerinduan lewat zikir zikir panjang

Kenanglah dalam ingatanmu sayang
Rinduku selalu ada meski biasa saja
Seperti pagi menanti matahari
Dan malam menanti rembulan

Selamat malam sayang
Kenanglah aku dalam nadi dan nafasmu
Agar aku yakin hanya aku dalam hatimu


tilam sunyi
160909

Nyanyian Kembang Jagung

Oleh : Lia Salsabila


72 jam menunggu
rambut keemasanmu
keluar satu satu


di angin berhembus basah
kembang jantanku tak merekah


di angin berhembus kering
serbuksariku jauh terpelanting


di angin tak kering tak basah
benangsariku penuh


30 juta serbuksari lepas
dari ujung kembang jantanku


tubuhku seringan debu
melayang tertiup angin
terserap gravitasi
mendampar di kepala putikmu


terserak serbukku berpeluh
bercinta ciptakan benih baru
berpacu dalam waktu
sebelum kematian merenggutku



Ladang Sunyi
070909

Bait Rindu

Oleh : Lia Salsabila

/1/
Pucuk rindu sentuh gelisah
Saat semilir rindu berhembus basah


/2/
Tiada rasa tanpa arti raga
Tiada rindu tanpa makna cinta
Senandung rindu tak nyata di mata
Tersirat dalam lelaku jiwa


/3/
Jiwa melayang menembus batas
Tak terlihat dinding bersekat
Lelaku rindu kian terhempas
Di jarak waktu yang tak lekat


/4/
Rindu dalam sekat waktu
Berpagar jarak sendu
Perlahan kudaki tangga sembilu
Rasakan tiap langkah didera pilu


/5/
Semilir desah rindu
Menyayat menyembilu
Rebah ke pangkuan
Meniti dalam kelam


/6/
Gigil rindu mengalir disungai nadiku
Menyebar ke seluruh saraf sarafku
Membelenggu tubuh hingga beku
Terpaku kuberjalan ke muaramu


/7/
Angin rindu membelai tubuh
Menembus pori timbulkan ruam
Gigilnya membakar peluh
Dalam sunyi ku memangku diam


/8/
Dalam sunyi rindu bernyanyi
Dalam diam gigil tak henti
Dalam tilam aku menanti
Bisik rindu menarinari


/9/
Pada malam rindu menari
Bagai belati menikam hati
Dalam sendu aku sendiri
Menatap langit tak berseri


/10/
Rindu selimuti kalbu
Terukir di kisi kisi relungku
Sehalus selendang satin
Memagut menata batin


/11/
Rindu di ujung senja
Terapit waktu kian menghimpit
Penuh luka tetap meronta
Dalam bilik teramat alit


/12/
Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang penantian
Sembilu menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tanpa tepi


/13/
Serpih rindu
Menggenggam sukma
Menggigit mencabik
Darah menghitam
Tetap manis dan segar
Bak madu meracuniku


/14/
Embun suci hidupkanku
Udara pagi bangunkanku
Bara rindu hangatkanku


/15/
Dalam terik ku melangkah
Dalam sunyi ku berlari
Menyongsong rindu merekah
Tumpah ruah di sanubari


/16/
Gejolak rinduku rindumu
Dalam jantung menyatu
Getarkan nadi memburu


/17/
Rinduku rindumu menyatu
Membanjir di sungai waktu
Merajah di dinding jarak
Bergolak jantung berdetak



Tilam Sunyi
030909

Senin, 16 November 2009

Sayang

Sayang, gerah jarak seperti membangun rindu dari biji ingatan
malam dan hujan berderap cahaya lampu berpagutan dengan hujan
aku di bawahnya membawa sekeranjang sepi
sembab mataku berjalan menujumu jantung dan hati berbagi sunyi
sayang, aku laki laki disusui purnama berlarian di semesta
mengukir langit dengan mataku
bila aku tak sampai padamu malam ini berikan rongga rindu untukku
biar aku ada dalam ingatanmu yang semakin senja


by : SAF

Sebatang Coklat Rindu

Kala rindu mengiris kalbu
Ku beli dua batang coklat di warung biru
Satu untukku, satu untukmu


Satu untukku, satu untukmu
Dua-dua nya aku yang makan
Biar jarak tau, dia bukan persoalan
Biar dia malu mengganggu kita melulu


Satu persatu kunikmati perlahan
Sampai di jantung
Sampai di hati
Sampai di dalam tubuh kita
Dalam hati jadi cinta dan ikatan
Dalam jantung jadi do'a dan harapan
Dalam tubuh jadi kita dan kekuatan


"Kutitipkan rindu pada sebatang coklat untukmu"


"Lia by SAF"
August '09

Minggu, 15 November 2009

Harapan Ladang Jagung

musim selalu ingkar

Langkahmu tak mampu terkejar

Semilirmu tak lagi teraba

Walau sejumput hanya



Tubuhku kerontang

Dahagaku kian rimbun

Dari pagi hingga petang

mengharap setetes embun



Sto-mata-ku berkarat

Air kehidupan kian mampat

Udara tak lagi murni

Terkotori tercemari



Haruskah mati konyol

Dengan usaha masih nol



Tidak !



Demi harap penanamku

memetik di ujung waktu

mengisi perut tersembilu

disayat kelaparan bertalu



Aku harus tumbuh, bangkit

Menatap matahari terbit




by Pipit Mungil
270809

Misteri Sunyi

tertatih dalam kenang menindih

meraba dinding masa yang jauh

menghitung langkah

dalam waktu tak terjamah




sendiri dalam labirin sunyi

hanya mampu menanti

dalam waktu silih berganti

mencoba menggapai asa diri

pasrah pada suratan Ilahi




"Lia by ARA"
260809

Praja Muda Karana

coklat tua coklat muda

simbol musim di bumi persada

asduk menggantung indah di leher

tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger

tak lupa kabaret dan topi

menambah manis dan asri



siaga, penggalang, penegak

semua berdiri bersikap tegak

berbaris laksana perwira

membentuk *angkare yang diminta



semua telah siap

tiang bendera tlah tertancap kuat

dari tongkat-tongkat yang terikat

cerminan persaudaraan yang begitu lekat



tri satya terpatri dalam jiwa

dasa dharma dalam lelaku raga

satya, ku-ku dharmakan

dharma, ku-ku baktikan

agar jaya Indonesia, Indonesia

tanah airku

kami jadi pandumu


SALAM PRAMUKA !!!!


*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan


"Lia"
140809

Terbiar

panas membakar

pandangan seketika nanar

tak lagi mampu kutawar

ngilu yang kian menguar



wajah lagi-lagi dibasuh memar

tak mampu tuangkan kelakar

siang panggang sekujur tak wajar

seolah mengajar tentang haus dan lapar



aku yang terbiar

masihkah kau menalar

dengan lilinmu yang memijar

akh !! aku tersasar di altar


"Lia,Ekosta,Khairud
140809

Mengejar Mimpi Di Pasar Pagi

Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut






Pada malam malam panjang

Kau telah merancang

Saat semua lena dalam mimpi

Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi



Semua masih terlelap

Jalan jalan pun lengang dan gelap

Kau lempar kantuk banting lelah

Diatas sepeda tua

Kau berpacu dengan waktu

Mengejar asa

Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela



Kau menunggu dengan sabar

Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar

Bibirmu lirih bergumam

Ikuti sayup rapal do'a dikejauhan

Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan

Wajahmu tersenyum nanar

Antara harap dan cemas

Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas



"Lia"
15 Juli '09



# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran

Kabut Di Kaki Argopuro

Jerit ketakutan membaur dengan
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”



Amarah yang kau nyanyikan

Lewat tangisan diterang, kegelapan

mencipta kabut berkepanjangan



Puing-puing berserakan

Karena hempasanmu semalaman

Sisakan luka dalam isakan



Pendar mentari semu

Tawarkan hangat kelabu

Mencoba tepiskan luka

Dengan berbagai tipu daya



Namun..

Kabut dikakimu tetap bergeming

Mengakar dalam urat bumi

Terpancang kuat dalam sanubari



"Pipit Mungil"
04 August 2009

Sabtu, 08 Agustus 2009

Buruh Tani

“Dalam tiap ayunan,
terperah darah demi sekeping impian”


Berdiri hadapi hamparan

Ukir guludan banyak ragam

Lempak masuk tanah keluar



Semenjak fajar selalu begitu

Lempar kantuk kesampingkan lelah

Hingga petang baru berhenti

Lelah penat tak lagi terperi



Demi asik mengukir bumi

Cipta harta yang bukan milik sendiri

Harta tuan tanah sang majikan

Harta sendiri hanya tenaga

Tenaga badan ditiap ayunan


"Lia"

Serumpun Asa

"Kutitipkan mimpi,
ku gadaikan darah dan belulang
pada batang padi"



Kusingkal dan kucangkul tempat semaimu

Kulumat bakal ilalang yang kan menggodamu

Kuratakan, kuhaluskan dan kualirkan air kesejukan

Hingga embriomu menggelian nyaman



Aku tersenyum, dadaku membusung

Saat keping lembagamu menyembul

Kian hijau, segar bak perawan gunung



Harapanku kian melambung

Membayangkan kau kan penuh mengisi lumbung

Membantuku ringankan kebutuhan yang kian membumbung

Hingga anak dan istriku tak lagi termenung


Detik-detik memetikmu kian dekat

Anai-anai pun ku asah lebih cepat

Namun aku tercekat

Saat daun benderamu berkarat

Bulir-bulirmu yang keemasan berubah coklat

Karna musim yang tak lagi mampu ku dekap

Hama penyakit yang tak lagi mati oleh obat



oh serumpun asaku

Akankah selalu seperti ini

Aku tetap miskin dinegeri sendiri

Tetap buruh di tanah Ibu sendiri


"Lia"

Jumat, 07 Agustus 2009

Jendela Pagi

Dalam sepoi angin
kurasa hangat seakan menanti

dalam gericik air malam
kurasa sunyi seakan bernyanyi

sunyi hangat dalam damaiku
cinta kasih menelungkupi jendela pagi

Abadi yang terlupa
karena peristiwa-peristiwa biasa

sebuah rasa kadang terlempar
pada dunia
pada asa di dada
hingga tibalah saat dalam masa
kembali, ada dalam abadi

---------------------------
----------------

5 Juli 2009
Inspiring Catatan Hudanosch Hudan, (21) kwek lin, sayuri yosiana, zuraidah abdul aziz- negeri jauh:mati

"Iwan Gunawan"

Minggu, 26 Juli 2009

Tawa Sekilas Duka Membekas

"SEMARAK"

Kata pertama yang terlontar dari otak

Sepanjang jalan protokol, dusun dan kampung
mulai berkibar bendera warna warni dan lampu hias tersusun
umbul umbul iklan produk ikut beraksi dan manggung
Tapi kenapa hatiku tak sesemarak suasana kotaku


Kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun
Semarak pesta kemerdekaan terus di usung
Semua tertawa gembira
Walau harus keluarkan kocek tuk selembar bendera
Padahal tuk makan masih butuh biaya
Tapi apa mau dikata
Diwajibkan sih katanya

Pekik merdeka berkumandang dimana mana
Dari media ke media
Dari mulut punggawa hingga kawula
Anak anak muda mudi riang gembira
Sambut hiburan yang saat saat tertentu saja
Pesta keperdekaan pun usai
Kotaku kembali hening dan sepi
Riang tawa seperti kembali terkunci

"ah..tawa semu merdeka
kamuflase hati pilu yang sebenar terpenjara"

Apa bedanya dengan pesta demokrasi
Semarak dan gempitanya sama
Rakyat tertawa bahagia dalam harap
terlambungkan dengan janji janji manis calon pewaris tahta
Amat yakin dan pasti
Hanya karena selembar merah bersayap

"yach...apa mau dikata
trik politik yang amat mengena
menyerang jiwa jiwa yang sedang sengsara
menahan rasa lapar dan dahaga"

Puncak pesta pun digelar
Semua berbondong bondong tentukan pilihan
Satu nama yang sudah disematkan

Sebulan dua bulan, setahun dua tahun
Tawa yang semula berderai tinggal senyuman dikulum
Harap yang begitu melambung
Hanya tinggal tetesan embun

Akan terus beginikah ?
Pekik merdeka dalam hidup terpenjara
Orasi sang penguasa hanya onani belaka


"Lia"
16 Juli '09

Bangsa yang sudah merdeka tapi sebenarnya belum merdeka
Dulu melawan bambu runcing dan keris
sekarang melawan bankir dan produk produk kapitalis

Kamis, 16 Juli 2009

Penantian

Jenjang penantian tlah berlumut
Lesakkan rindu dalam kabut
Kian lama merejam badan memagut

Serpihan rindu berbalik melingkupi sukma
Menggigit mencabik
Berdarah darah manis menghitam
Bak madu yang meracuni

Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang benang penantian
Sembilu sayat menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tiada bertepi

"Lia"

Jejak Cinta

Kusibak tirai dinding hatimu
Tak nampak satu huruf pun namaku terukir disana
Pedih tiba tiba di sebalik dada

Perlahan kutelusuri bilik hatimu
Tak satupun jejak langkah tertinggal
Kian perih rasa disebalik dada

Aku bertahan
Kusingkap pelan tabir relung hatimu
Samar kulihat jejak jejak indah
Berkelebat di pelupuk mata
Ada secercah harap
Tepiskan pedih palung jiwa

Tidak tidak...
Jejak itu bukan langkahku
Bukan bukan....
Tanda cinta itu juga bukan untukku

Pedih perih membentuk luka
Basah memerah
Hempas telaga di sudut mata
Terkoyak sudah rajutan asa

"Lia"
10 Juli '09

Pipit mungil terbang menukik langit
Menggapai sisa harap yang tergantung disana
Tiba tiba sayapnya patah
Pipit pun jatuh menimpa bumi
Berkalang tanah