Minggu, 10 Mei 2009

Tak Sanggup Berpuisi

Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Otakku terasa tumpul membatu
Lidah begitu kelu bagai menelan onak duri
Jemari tak sanggup menorekkan kata
karena mati rasa

Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Semesta ikut bergejolak
Sang waktu murka berhenti bergulir seketika
Angin berhenti berhembus
Burung-burung pun tak lagi berkicau merdu

Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Jiwa terasa kosong dan hampa
Ruh meregang melesat meninggalkan jasad
Hati tak lagi bening namun berkarat
Hingga tak mampu menjadi cermin

Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Sanjak cinta tak lagi tercipta
Karna rasa cinta menghilang entah kemana
Dia tak lagi menjadi penghuni sejati sanubari
Sejumput asapun tak lagi terajut
Tercipta kekakuan dan kebisuan
Tersisa kebekuan dan luka yang makin dalam

"Lia"

Mencarimu

Pagi ini ku kembali mencarimu
diantara puluhan burung-burung beterbangan
Kepak sayapmu tak nampak
Pekik suaramu tetap tak terdengar
Pagi ini terasa tak lengkap tanpa hadirmu

Elang...
Di penghujung langit mana engkau terbang
Sayapku begitu ngilu kukepakkan
Akankah kau tlah berlabuh
Menemukan sarang yang lebih teduh
Tapi mengapa....
Mengapa bukan aku
apa karna ku hanya Pipit Mungil yang rapuh

Aku akan sabar menantimu
Walau itu menambah daftar panjang penantianku
Hingga sepatah kata terucap dari bibirmu

"Lia"

BATAS Rindu

Rinduku tlah diambang BATAS
Menyesak menyeruak dalam kalbu
Muncul membentuk rona semburat diwajah

Saat mentari muncul
yang terlihat bukan cahaya namun auramu
Pipit pagi berceloteh terdengar bagai derai tawamu
Desauan angin ibarat bisikan cintamu
yang terputar kembali

Rinduku tlah lewati ambang BATAS
Kian menyesak hingga berubah perih dan ngilu
Menjelma membentuk tirai kemuakan dan kebencian
Titik-titik keraguan berpendar kian nyata
Seakan melumat habis rindu membara
Menjadikannya beku dan sedingin salju

"Lia"
Elang bilakah kau akhiri kelanamu
Pipit mungil tlah teramat lelah menanti

Sabtu, 02 Mei 2009

Tanpa Judul

Rona merah senja kembali menggayut diufuk barat
Menelan keangkuhan sang surya
Perlahan gemintang mulai bermunculan
Sang bulanpun dengan pongahnya melenggang diatas langit
Sungguh pemandangan yang amat luar biasa

Aku tertegun
Senyumku tiba-tiba tak berbekas
Tawaku lenyap ditelan gulita malam
Hatiku teriris tercabik
Pandanganku seketika nanar

Keyakinanku akan hadirmu mendadak luruh
Yakinku akan setiamu menguap entah kemana
Akupun tak yakin bisa kembali merajut kain yang tlah hancur

Batinku kembali berteriak
Cinta....Aku ingin tua bersamamu
Merenda hari-hari penuh canda dan tawa
Menatap anak-anak yang kelak meneruskan jejak kita
Tanpa perlu sesaatpun khawatir
Hatimu pergi meninggalkanku

''Lia''
Apakah cemburu mulai mencolek hatiku....
Cemburu itu wajar asal masih dalam BATAS

Noktah Cemburu

Aku mencoba paham jika kau tak mungkin selalu disampingku
Tapi aku perempuan yang punya siklus tertentu
Saat emosiku terpacu lebih cepat
Hingga mudah termakan cerita negative tentangmu

Cinta..akankah kau tahu ?
Betapa sering ku merasa tak berdaya melawan waktu
Yang begitu menghimpit di setiap jengkal tubuh
Mempertahankan sebuah penantian yang semakin panjang

Sering aku bertanya
Samakah rasamu dengan rasaku
Rindukah kau padaku
Masihkah kau setia pada ikrar tuk selalu bersama

Cinta….
Salahkah jika aku meminta tatapan kagum,
Pujian dan kata-kata mesra itu hanya untukku
Salahkah jika aku meminta hanya aku di hatimu

Tak hanya jarak, ruang dan waktu
Namun juga mimpi dan kisah-kisah disekeliling
Yang memisahkanku dari genggaman jemarimu
Maafkan jika senyumku tersembunyi dibalik air mata
Dan kata-kata mesra tak terucap terperangkap dalam prasangka

Noktah itu bernama cemburu
Mencolek lembut dinding hatiku
Aku hanya ingin kau tahu
Cinta yang ku punya lebih berwarna
Dari yang kau kira

“Lia”
Jangan biarkan cemburu menguasaimu

yakinlah..Sang Elang kan kembali tuk hampiri si Pipit Mungil...

Minggu, 26 April 2009

Masa Sebuah Perjalanan

Dengan menyebut Asma Mu Ya Allah

Aku tulis surat ini untuk menghibur hati kita.
Sementara kita kenangkan hari ini 
dan menapaki pula Masa remaja kita yang gemilang.
Dan juga masa depan kita yang menjelang 
yang dengan lega akan kita lunaskan
Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita
Karena takdir perjalanannya adalah hukuman sejarah kehidupan,

Suka, duka kita bukanlah istimewa karena setiap orang mengalaminya
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh namun untuk mengolah hidup.
Melebur menyatu dengan bumi menapaki rahasia langit dan samudra 
serta mencipta dan mengukir dunia. 
Kita menyandang tugas, bukan demi surga ataupun neraka,
Namun demi kehormatan seorang manusia. 
Karena sesungguhnya kita bukan debu
Meski telah renta bukan juga kelabu. 
Kita adalah kepribadian, dan harga kita adalah tali cinta kasih dan sayang kita.
Toleh lagi kemasa silam banyak kenangan yang tak terhapuskan.

Lihatlah hari-hari penuh warna, hari-hari yang dibeli nafas kita,
hari-hari yang selalu bangkit diatas puing-puing kisah lama
yang telah porak poranda. 
Dan kenanglah pula bagaimana kita dulu
Senantiasa tersenyum menatap langit,
menapaki bumi, dan memperjuangkan nasib kita, 
Karena senyuman adalah sikap kita untuk Tuhan, 
alam semesta beserta isinya.
Lihatlah hari-hari penuh warna,
saat kita menolak untuk menjadi koma, 
meski goyah, rapuh bengkok dan renta 
karena usia yang lebih kuat dari kita, 
namun bukan karena kita terkalahkan.

Aku tulis surat ini untuk menghibur hati kita, 
sementara kita kenangkan hari ini, 
kenanglah pula 
bahwa kita ditantang untuk tidak saling melupakan, 
tapi justru untuk menyulam asa dalam jalinan
Cinta, kasih dan sayang kita…….Amieenn…….

Segala Puji Hanya Pada Mu Tuhan Semesta Alam


"Lia by Orlitia"

Jumat, 24 April 2009

Siapkah Kita

Kita takkan pernah tau berapa umur kita
kita takkan pernah tau
kapan maut menjemput kita
dan saat maut itu sudah menjemput

SIAPKAH KITA.......??????

apa yang bisa kita bawa kesana
sudah cukupkah kita beramal baik
sudah banyakkah tabungan kita
tuk menyongsong rumah masa depan kita

Ampuni kami Yaaa...Robbi
Ampuni kami...Ampuni kami..

"Lia"
Ya Allah...Tuntunlah hamba tuk terus dijalan-Mu
masukkan hamba kedalam golongan kekasihmu
Amien.....

Nasib Bangsa

Ya Allah...
Mengapa moral rakyat Bangsa ini
kian hari kian bobrok
mereka tak lagi mampu menggunakan nurani
semua tergantung pada siapa
yang sanggup membeli dengan harga tertinggi

Ya Allah...
kenapa kian hari rakyat Bangsa ini
kian bengis dan kejam
semua terlena pada ala demokrasi yang kebablasan
segala permasalahan diselesaikan
dengan teriakan dan ancaman

Ya Allah...
Bangsa ini kian jauh dari kedamaian
Bangsa ini kian miskin dan rapuh
bukan karna nilai rupiah turun
bukan pula karna SDA yang kian menipis
tapi karna makin kurangnya MILITAN sejati
berkurangnya orang yang menggunakan nurani

Ya Allah....
apa yang akan terjadi dengan Bangsa ini
bagaimana nasib Bangsa ini kelak

Ya Allah...
hadirkanlah sosok yang bisa menjawab semua ini
sosok yang benar-benar menggunakan nurani
sosok yang benar-benar militan sejati
agar Bangsa ini tidak menangis
dan berteriak kian kencang

"Lia"
Barjuanglah terus MILITAN sejati
Merdeka......!!!!!

Kasih

Kasih....
jantungku berdetak begitu kencang
saat ku ingat tatapan matamu yang tajam
darahku mengalir deras bak air terjun
mengingat senyummu yang memikat
hingga ku terlena dalam gairah cinta yang menggelora

Kasih.....
rasaku pun sama dengan rasamu
rinduku begitu berat dan sarat
aku tak lagi merasa lelah
tapi sudah menjadi pasrah
namamu terpahat dalam dinding hati
tersemat dalam tiap tarikan nafas..

Kasih...
Cintamu ibarat hembusan angin
menerpa dan merasuk melaui pori-pori menembus ulu hati
makhluk tak bisa hidup tanpa angin
begitu pun aku tak mampu hidup tanpa cintamu
diriku ibarat raga kosong tak bernyawa tanpa hadirmu

Kasih..
ingin ku gapai cintamu
kan ku letakkan diistana hati terdalam
hingga kisi-kisi ruang hati sarat akan cinta
kurengkuh tirai-tirai kasih hingga bertaut
kurenda hari-hari penuh cinta membara bersamamu

Kasih...
Aku memujamu...
merindumu...
Mengasihimu...
Mencintamu...
menyayangmu...tanpa henti...
Disini.........Aku adalah cinta sejatimu..


"Lia"

Elang...bilakah kau sudahi pengembaraanmu...

Pipit Mungil tlah lelah menantimu.......

Persahabatan

Persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga

Persahabatan ibarat tangan dengan mata

Saat tangan terluka mata akan menangis

Saat mata menangis

tangan akan menghapus air mata itu


Persahabatan sejati layaknya kesehatan

Nilainya baru kita sadari setelah kehilangan

Sahabat adalah seseorang yang dapat

Mendengarkan lagu dalam hati kita

Dan akan menyanyikannya kembali

Saat kita lupa akan bait-bait nya


Sahabat adalah

Tangan tuhan untuk menjaga kita


"Lia"

Pujangga Gila...thanks tuk kata-kata bijaknya


Ku Ingin

Ku ingin …Cinta sejati

Cinta yang tercipta dari ketulusan hati

Kemurnian cinta yang tumbuh dari dasar sanubari

Cinta yang datang dari sumber segala cinta

Cinta yang membawa manfaat dan kebaikan

Cinta yang hanya dimiliki Sang Maha mencintai

Ku ingin…kekasih sejati

Yang terima aku tanpa peduli apa derajadku

Yang setia dalam suka maupun duka

Yang mencintaiku karna Ilahi Robbi

Yang senantiasa menuntunku menuju kebaikan dan keindahan

Yang senantiasa mengajakku

Bercinta untuk surga


"Lia"

Tak ada yang tak mungkin, harapan tetap ada

insyaallah...Amien


Sang Pujangga

Sang pujangga
Katamu menggores tipis dinding hati
Tanpa terasa air bening mengembang di pelupuk mata
Bersamaan dengan munculnya
Satu tekad dan sejumput asa

Sang pujangga
Katamu membuka mata
Membuatku terbangun
Dari tidur panjang melelahkan
Merenggut mimpi yang membelenggu
Melebur hati yang telah membatu
Hingga tercipta dan tumbuh
Sebuah cita dan cinta baru

Sang pujangga
Katamu menampar keras egoku
Hingga ku bagai seorang pesakitan
Yang menunggu ajal
Dan ku tersadar sia-sia yang kulakukan

Sang pujangga
Katamu menusuk dada menembus jantung
Sarat akan makna yang membuatku terhibur
Hingga ku tersadar
Jalanku masih panjang berliku
Masih banyak MIMPI yang belum ku gapai

Masih ada CINTA yang harus ku perjuangkan

"Lia"
Thanks Pujangga Gila, Katamu penuh makna

Sabtu, 11 April 2009

KERINDUAN

Dikala sang alam mulai terlelap
Hening terasa tiada terucap suatu kata
Terlihat kerlip lembut bintang disana
Membuat rindu ini semakin merona
Kutermangu dalam kesunyian tenggelam dalam kebisuan
Desir sang bayu mengusap wajah berikan ketenangan
Parasmu jelas tergambar di pelupuk mata
Ingin kurengkuh sosok bayanganmu
Namun bayangan hanyalah bayangan
Kurasakan kebekuan menyusup setiap jengkal aliran darah
Kuhela nafas panjang tuk redakan segala sesak
Saat kutatap sang rembulan hatiku berbisik "aku rindu dia,
Akankah dia tahu aku merindukannya ?"
Tanpa sadar setitik air mata jatuh
Mengiring kerinduan yang tak tertahankan lagi
Kembali ku berbisik lirih dengan kepala tertunduk
"aku sayang dia, aku rindu dia"
Kenangan masa indah yang pernah terajut kembali membayang
Membuat aku tersadar dan tersentak
Ya Allah…aku masih merindukannya…


By Lia & Phoenix

HARI

Senin....
Ku sangat membencimu...
Karna ku tau dia akan pergi jika kau datang
Selasa...rabu..kamis...
Selalu sepi, kosong nan hampa
Hanya kenangan yang tersisa
Jum'at..
Ku slalu tak sabar menantimu
Karna aku tau saat kau hadir
Kebahagiaanku kian dekat
Sabtu...
Emosiku terkuras habis
Hatiku terus berteriak 'hore dia akan datang'
Jantungku berdetak kencang
Cemas dan takut dia tak datang...
Minggu....
Begitu indah dan bahagia
Karna dia ada disamping aku...
Senin...
Arrrgggccchhhh...
Kenapa begitu cepat kau datang
aku masih belum puas bersamanya..

SEPI

Saat waktu terus merangkak dan merayap
Tak terasa malampun kian pekat nan senyap
Hati terasa sepi seolah mati hampa bak ruang kosong
Kering kerontang laksana gurun
Akankah ruang kosong itu terisi
Bilakah setetes embun itu jatuh
Aarrccgghh……..
Sepi ini begitu menggigit
Hingga hati menggigil dan beku
Bilakah sepi ini sirna dan pergi...

Selasa, 10 Maret 2009

Gadis Berkerudung

Jilbab panjang berkibar
Menutupi parasmu yang ayu
Menyembunyikan ragamu yang mungil dan rapuh

Tatapan teduh menyejukkan
Tutur kata lembut nan syahdu
Gerak gemulai nan santun
Senyuman yang begitu tulus
Itulah pesonamu

Hai gadis berkerudung
Teramat elok parasmu
Begitu santun perilakumu
Tatapan yang begitu teduh dan memikat
Menyihirku dan menyedot sukmaku
Seakan aku tenggelam dalam karismamu

Rasa Yang Tak Tentu Arah

waktu merangkak tanpa pernah bisa berhenti
siang dan malam pun berganti dengan pasti
akankah semua ini akan terus terjadi
tanpa pernah aku bisa mengerti

Pagi begitu enggan beranjak senja
Senja pun seolah tak mau berganti malam
entah sampai kapan ku merasakan
gejolak rindu yang kian tak tertahankan

hati kecilku tak kan sanggup berbohong
menahan gejolak kerinduan yang amat merongrong
sukma pun turut meronta
meminta tuk mengembara menggapainya

Detik demi detik ku lalui dengan enggan
Sukma melayang mencari sosok kerinduan
Akan kah hari itu akan datang
Ataukah hanya sebatas angan-angan
Entahlah, penantian ini membuatku segan dan lelah
Menyerah dan melupakan rasa yang membuatku tak tentu arah

Kamis, 05 Maret 2009

Saat Terakhir Bersamamu

Saat senja mulai menjelang
Lirih terdengar suara ketukan
Sayup terdengar sebait salam
Terlihat seraut wajah yang tidak asing
Dengan seulas senyum yang selalu kurindukan

Engkau menyapa begitu ceria
Tawa dan candamu begitu lepas
Seolah kau tanpa beban dan problema

Waktu berjalan begitu cepat
Tanpa terasa hampir 2 jam kita bersama
Kau ucap sebait kata pamit
Mengakhiri kebersamaan kita

Kau melihatku dengan cara berbeda
Seolah kau ingin menikmati semua yang kau lihat
Tanpa sadar ku juga melihatmu lekat-lekat

Selepas kau pergi
Kutermangu seorang diri
Seolah hilang sukma ku sebagian
Meredam perasaan yang tak karuan

Senja telah berganti malam
Perasaanku semakin tak karuan
Hingga ku terima sebuah pesan
Tidaaaaaaak…….
Kau jadi korban mesin pembunuh jahannam

Aku sungguh tak percaya
kau telah pergi selamanya
2 jam kebersamaan kita
Ternyata saat terakhir yang tak ku duga

"AKA" Semoga Kau Damai di sisi-Nya

Rabu, 04 Maret 2009

Kehadiranmu

Kau datang tanpa suara
Menyusup perlahan dalam jiwa
Kata-katamu laksana trisula
Merobek dan mencabik sukma

Hadirmu membawa nyayian rindu
Begitu membuai hati bertalu-talu
Tanpa sadar ku jadi terpaku
Tak terasa lidah ku pun jadi kelu

Kehadiranmu mengusik jiwa
Menggugah hati dengan sejuta makna
Aku menjadi amat tak berdaya
Raga bagai kosong tak bernyawa


To Kekasih Hati

Cinta Putus di Tengah Jalan

Oh…sepi terasa
Ketika cinta mulai pudar dalam hati
Namun betapa sulit tuk melupakan
Karena dia kekasihku

Hingga detik ini…..
Aku masih tetap mencintaimu
Melupakanmu sungguh aku tak mampu
Setiap saat terdengar suaramu memanggilku

Dulu kita amat bahagia dan mesra
Saling menyayang dan bergurau senda
Mengikrarkan sumpah janji setia
Hingga akhir hayat akan terus bersama

Kita telah merangkai dan merenda semua
Tentang biduk masa depan kita
Namun sayang…..
Ternyata Tuhan berkehendak lain
Kau pergi untuk selamanya
Tanpa pernah bisa kembali buatku

Kini tinggal ku keseorangan
Tanpa gurau dan senda darimu
Siang dan malam begitu sepi terasa
Ku selalu merindukan kemesraanmu

Setiap saat ku terkenang
Hajat yang tak pernah kesampaian
Ketika ku tersadar
Ternyata cintaku putus ditengah jalan


Bait Kata ini kupersembahkan untuk
Almarhum " AKA "
Love Hamesya " LIA "