Aku tertegun takjub
Membaca goresan pena sarat makna
Kekaguman tiba-tiba muncul pada jari pengukirnya
Walau tak tahu siapa dia
Kubaca sebuah nama, hmmm....wajah sederhana
Terkesan misterius dan angkuh
Kutelusuri kata demi kata dalam tiap bait gubahannya
Isyaratkan karakter keras namun memikat
Segan terasa tuk menyapa
Membayang keangkuhan di wajahnya
Perlahan ku coba menguak tabir tentangnya
Melalui bait-bait sarat tanya
Mata begitu tajam namun lembut
Wajah tegas penuh kedewasaan
Bibirnya tebarkan senyum bersahabat
Gurauannya begitu kocak
Terkesan lebay bahkan kadang norak
Namun kata-katanya begitu bijak
Itu yang aku suka darinya
Aku menjadi penuh warna jika bersamanya
Kadang merasa begitu bodoh
Merasa diri paling pintar
Seringkali tersanjung dengan pujiannya
Bahkan tersinggung dan marah dengan kata-katanya
Namun aku menikmati semua itu
Begitu nyaman dan indah
Bersyukur aku mengenal dia
Sahabat.....
Terima kasih tuk waktu yang selalu kau sediakan
Telinga yang siap mendengarkan keluh kesah
Bibir yang mengucap kata pujian, nasehat bahkan kritikan
Sahabat.....
Denganmu aku tak perlu JAIM
Aku bisa tertawa sepuasnya
Tanpa khawatir dianggap cerawak
Aku bisa cerita semuanya tanpa khawatir
Karna ku yakin kan dijaga tiap amanah yang kupinta
Bahkan aku tidak malu saat harus menangis
Sahabat.....
Terima kasih tuk semua penerimaanmu
Karnamu aku merasa lebih berharga
Perlu kita ingat sahabatku.....
Persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga
Persahabatan ibarat tangan dengan mata
Saat tangan terluka mata akan menangis
Saat mata menangis
Tangan akan menghapus air mata itu
Persahabatan sejati layaknya kesehatan
Nilainya baru kita sadari setelah kehilangan
Sahabat adalah seseorang yang dapat
Mendengarkan lagu dalam hati kita
Dan akan menyanyikannya kembali
Saat kita lupa bait-baitnya
Sahabat adalah......
"Tangan Tuhan untuk menjaga kita"
Special for You (0212-0717)
Thanks tuk semua sahabat dimanapun kalian berada
"Lia"
Thanks ya dah mau ngerti aku
Semoga persahabatan ini abadi
Amien.......
Selasa, 09 Juni 2009
Apa dan Mengapa
Masih terlalu gelap tuk dikatakan pagi kala kuterjaga
Kusapukan pandanganku pada tiap jengkal sudut kamar
Bayanganmu jelas nian di ujung mata
Namun tak sekelebatpun nampak dalam sukma
Darahku berdesir
Mengapa.....???
Ada apa denganku...???
Sesuatu yang lembut berbisik lirih dalam gendang telinga
Sebab.....
Hati tlah terlanjur kecewa
Rindu tlah lebih dulu jadi benci
Hasrat membara tiba-tiba membeku
Air matapun tlah terlanjur tumpah
Kisah seperti apa yang sebenarnya kujalani...???
Lakon seperti apa yang harus ku perankan....???
Semua hanya ada dalam tanda tanya besar
Apa dan Mengapa...???
Siapa dan bagaimana...??
Namun...
Apakah semua itu jadi alasan
Cukup adilkah jika takdir yang dipersalahkan
Kembali ku bertanya
Hai Nurani....
Sudah benarkah yang kau lakukan
Seberapa besar pengorbanan yang kau beri
Sedalam apakah cinta yang kau agungkan
Apa benar kau sudah bersabar
Sudah bijakkah kau sikapi persoalan
Nuraniku tak mampu menjawab
Semua kembali pada
Apa dan Mengapa....????
Siapa dan Bagaimana...???
"Lia"
Terkadang butuh seseorang tuk berbagi
Butuh seseorang tuk mengatakan kau salah
Butuh seseorang yang bisa mengerti
Kusapukan pandanganku pada tiap jengkal sudut kamar
Bayanganmu jelas nian di ujung mata
Namun tak sekelebatpun nampak dalam sukma
Darahku berdesir
Mengapa.....???
Ada apa denganku...???
Sesuatu yang lembut berbisik lirih dalam gendang telinga
Sebab.....
Hati tlah terlanjur kecewa
Rindu tlah lebih dulu jadi benci
Hasrat membara tiba-tiba membeku
Air matapun tlah terlanjur tumpah
Kisah seperti apa yang sebenarnya kujalani...???
Lakon seperti apa yang harus ku perankan....???
Semua hanya ada dalam tanda tanya besar
Apa dan Mengapa...???
Siapa dan bagaimana...??
Namun...
Apakah semua itu jadi alasan
Cukup adilkah jika takdir yang dipersalahkan
Kembali ku bertanya
Hai Nurani....
Sudah benarkah yang kau lakukan
Seberapa besar pengorbanan yang kau beri
Sedalam apakah cinta yang kau agungkan
Apa benar kau sudah bersabar
Sudah bijakkah kau sikapi persoalan
Nuraniku tak mampu menjawab
Semua kembali pada
Apa dan Mengapa....????
Siapa dan Bagaimana...???
"Lia"
Terkadang butuh seseorang tuk berbagi
Butuh seseorang tuk mengatakan kau salah
Butuh seseorang yang bisa mengerti
Dilema
Cinta itu tlah kumiliki
Namun begitu sulit terjamah
Bertahta dan mangkat dengan sesukanya
Membawaku dalam dilema antara ada dan tiada
Hatiku ibarat sebuah penginapan baginya
Ragaku bak seonggok ranjang antik koleksinya
Singgah atau tidak tergantung kebutuhannya
Duduk atau rebah tergantung kuasanya
Dia ada atau tidak bagiku sama saja
Tak menjadikan duniaku lebih berwarna
Kau ada namun tiada
Kau tiada namun ada dan begitu nyata
Sabar seperti apa yang harus ku sampirkan
Setia seperti apa yang harus ku sematkan
Cinta seperti apa yang sebenarnya aku idamkan
"Lia"
Sabar, ikhlas, setia adalah kata yang mudah diucap
namun begitu sulit tuk di kecap
Namun begitu sulit terjamah
Bertahta dan mangkat dengan sesukanya
Membawaku dalam dilema antara ada dan tiada
Hatiku ibarat sebuah penginapan baginya
Ragaku bak seonggok ranjang antik koleksinya
Singgah atau tidak tergantung kebutuhannya
Duduk atau rebah tergantung kuasanya
Dia ada atau tidak bagiku sama saja
Tak menjadikan duniaku lebih berwarna
Kau ada namun tiada
Kau tiada namun ada dan begitu nyata
Sabar seperti apa yang harus ku sampirkan
Setia seperti apa yang harus ku sematkan
Cinta seperti apa yang sebenarnya aku idamkan
"Lia"
Sabar, ikhlas, setia adalah kata yang mudah diucap
namun begitu sulit tuk di kecap
Setangkup MLATI
Kupacu motorku dengan kecepatan tertinggi
Seiring denyut jantung memacu adrenalin
Ter-engah mengejar harap
Tuk setangkup MLATI yang jadi syarat
Kulewati jalan panjang berkelok
Kadang halus mulus sering juga berkerikil
Kadang ramai dan riuh
Acapkali bagai lorong-lorong sepi tanpa penghuni
Tunggu aku di sudut pantai itu
Kan kulabuhkan segenap rasa menyesak dada
Hingga terbuka pasung pembungkus jiwa
Tunggu aku di bibir pantai itu
Kan kutumpahkan telaga yang membuncah
Menyeruak berebut di pelupuk mata
Hempaskan semua duka lara
Jika semua tlah usai
Taburkan setangkup MLATI itu di wajah dan ragaku
Agar terbayar lunas hutang janjimu
"Lia"
Puger, 17 Mei 2009
Seiring denyut jantung memacu adrenalin
Ter-engah mengejar harap
Tuk setangkup MLATI yang jadi syarat
Kulewati jalan panjang berkelok
Kadang halus mulus sering juga berkerikil
Kadang ramai dan riuh
Acapkali bagai lorong-lorong sepi tanpa penghuni
Tunggu aku di sudut pantai itu
Kan kulabuhkan segenap rasa menyesak dada
Hingga terbuka pasung pembungkus jiwa
Tunggu aku di bibir pantai itu
Kan kutumpahkan telaga yang membuncah
Menyeruak berebut di pelupuk mata
Hempaskan semua duka lara
Jika semua tlah usai
Taburkan setangkup MLATI itu di wajah dan ragaku
Agar terbayar lunas hutang janjimu
"Lia"
Puger, 17 Mei 2009
Senin, 08 Juni 2009
Wajah Anak Bangsa
Kupandangi wajah-wajah mungil itu
Begitu lugu nan suci
Penuh minat namun sarat tanda tanya
Sebuah pengharapan yang besar
Tuk secuil ilmu yang ingin di kecap
Tingkah polah mereka membuatku geli
Bangga sekaligus trenyuh
Mereka begitu antusias
Berseri tatkala mengerti
Kebingungan tatkala kurang faham
Arrccgh..sungguh pemandangan yang indah
Sering kutangkap pandangan penuh tanya
Penuh semangat membara
Seolah berkata
Aku pasti bisa mengikuti tiap katamu Bu Guru
Akupun kian semangat
Membuka lembar demi lembar diktat
Tuk penuhi dahaga mereka
Puaskan keingin tahuan mereka
Pada wajah-wajah itu ku berharap
Generasi penerus bangsa briliant tercipta
Seorang pemimpin bangsa bijak terlahir
Wajah anak bangsa ku
Padamu kulabuhkan asa
Tuk sejuta harap demi kemajuan bangsa
"Lia"
Kelas Wustho
19 Mei 09 (19.12)
Begitu lugu nan suci
Penuh minat namun sarat tanda tanya
Sebuah pengharapan yang besar
Tuk secuil ilmu yang ingin di kecap
Tingkah polah mereka membuatku geli
Bangga sekaligus trenyuh
Mereka begitu antusias
Berseri tatkala mengerti
Kebingungan tatkala kurang faham
Arrccgh..sungguh pemandangan yang indah
Sering kutangkap pandangan penuh tanya
Penuh semangat membara
Seolah berkata
Aku pasti bisa mengikuti tiap katamu Bu Guru
Akupun kian semangat
Membuka lembar demi lembar diktat
Tuk penuhi dahaga mereka
Puaskan keingin tahuan mereka
Pada wajah-wajah itu ku berharap
Generasi penerus bangsa briliant tercipta
Seorang pemimpin bangsa bijak terlahir
Wajah anak bangsa ku
Padamu kulabuhkan asa
Tuk sejuta harap demi kemajuan bangsa
"Lia"
Kelas Wustho
19 Mei 09 (19.12)
Transformasi Diri
Bila kehidupan laksana samudra
Maka hidup itu adalah sebuah perahu
Kita harus arif dalam menantang gelombang
Agar selamat mencapai pulau harapan
Setiap perubahan menghadirkan sebuah harapan
Harapan mengandung tantangan
Tantangan selalu berisiko
Namun kita harus berani mengambil resiko
Agar dapat mengubah hidup
Tidak ada yang pasti dalam hidup dan kehidupan
Kecuali satu
Yaitu bahwa hidup hanya sekali
Jangan sia-siakan waktu
Manfaatkanlah sebaik mungkin
Untuk menjadikan hidup semakin berarti
Bila kita belajar dari setiap peristiwa yang terjadi
Maka ia akan menghadirkan pengetahuan
Bila kita belajar dari apa yang terjadi pada kita
Maka ia akan melahirkan kearifan hidup
Kearifan hidup adalah modal utama
untuk mencapai cita-cita hidup
Kita tidaj dapat merubah orang lain
Tetapi kita dapat merubah diri kita
Bila seekor ulat bisa berubah, kenapa kita tidak...????
"don't ask me, ask your heart...the answer is in your heart"
Renungkanlah
"Lia by Tjiptadinata Efendi"
Maka hidup itu adalah sebuah perahu
Kita harus arif dalam menantang gelombang
Agar selamat mencapai pulau harapan
Setiap perubahan menghadirkan sebuah harapan
Harapan mengandung tantangan
Tantangan selalu berisiko
Namun kita harus berani mengambil resiko
Agar dapat mengubah hidup
Tidak ada yang pasti dalam hidup dan kehidupan
Kecuali satu
Yaitu bahwa hidup hanya sekali
Jangan sia-siakan waktu
Manfaatkanlah sebaik mungkin
Untuk menjadikan hidup semakin berarti
Bila kita belajar dari setiap peristiwa yang terjadi
Maka ia akan menghadirkan pengetahuan
Bila kita belajar dari apa yang terjadi pada kita
Maka ia akan melahirkan kearifan hidup
Kearifan hidup adalah modal utama
untuk mencapai cita-cita hidup
Kita tidaj dapat merubah orang lain
Tetapi kita dapat merubah diri kita
Bila seekor ulat bisa berubah, kenapa kita tidak...????
"don't ask me, ask your heart...the answer is in your heart"
Renungkanlah
"Lia by Tjiptadinata Efendi"
Andai
Di sudut puncak tertinggi kotaku
Ku duduk terpekur
Mengingat sepotong hati nun jauh disana
Sedang apakah gerangan kasihku
Akankah dikau rindu
Adakah kau jua rasa hampa
Kupandang kerlip lampu kota
Nampak begitu kecil nan indah
Berpijar bak bintang kejora
Nun jauh di bawah sana
Andai kau ada di sini
Memeluk ragaku yang tiba-tiba dingin
Mengisi kehampaan jiwa sepi
Memadu kasih sejati jiwa
Andai hanya tinggal andai
Khayal hanya tinggal impian
Bayangan hanya berkelebat saja
Semua tak nyata
Semu dab selalu semu
"Lia"
Ku duduk terpekur
Mengingat sepotong hati nun jauh disana
Sedang apakah gerangan kasihku
Akankah dikau rindu
Adakah kau jua rasa hampa
Kupandang kerlip lampu kota
Nampak begitu kecil nan indah
Berpijar bak bintang kejora
Nun jauh di bawah sana
Andai kau ada di sini
Memeluk ragaku yang tiba-tiba dingin
Mengisi kehampaan jiwa sepi
Memadu kasih sejati jiwa
Andai hanya tinggal andai
Khayal hanya tinggal impian
Bayangan hanya berkelebat saja
Semua tak nyata
Semu dab selalu semu
"Lia"
Selasa, 02 Juni 2009
Mata Itu
Mata itu tak lagi bening
Ternoda oleh pandangan penuh dosa
Berkarat oleh kilatan amarah
Mata itu tak lagi indah
Penuh lingkar hitam karena lelah
Terkungkung dalam rutinitas tanpa arah
Mata itu tak lagi berseri
Ada guratan duka disana
Luka yang teramat dalam
Hingga tatapannya kelam hampa
Mata itu tak lagi tersenyum
Tak lagi ikut tertawa
Ada telaga yang bergejolak disana
yang tiap saat bisa tumpah
Melampiaskan segala gundah
Tatapan mata itu kosong
Hampa tanpa gairah
Menyimpan sejuta resah
"Lia"
Ada apa dengan pemilik mata itu..??
Ternoda oleh pandangan penuh dosa
Berkarat oleh kilatan amarah
Mata itu tak lagi indah
Penuh lingkar hitam karena lelah
Terkungkung dalam rutinitas tanpa arah
Mata itu tak lagi berseri
Ada guratan duka disana
Luka yang teramat dalam
Hingga tatapannya kelam hampa
Mata itu tak lagi tersenyum
Tak lagi ikut tertawa
Ada telaga yang bergejolak disana
yang tiap saat bisa tumpah
Melampiaskan segala gundah
Tatapan mata itu kosong
Hampa tanpa gairah
Menyimpan sejuta resah
"Lia"
Ada apa dengan pemilik mata itu..??
Rabu, 13 Mei 2009
Bayangan
Aku tergugu
Dengan lidah yang teramat kelu
Melihat bayanganku di telaga biru
Silih berganti bayangan itu muncul
Bagai slide show film yang sengaja diputar
Nampak aku diwaktu kecil
Begitu dekil kusam tak terawat
Cengeng dan selalu penuh rasa takut
Amat rapuh mengenaskan
Selalu bertanya-tanya apa itu kehidupan
Saat aku remaja
Mulai tampak perubahan pada tubuhku
Lumayan bersih bercahaya
Mulai berani menatap dan bertanya
Namun masih tetap cengeng pemalu dan manja
Rekaman berganti saat aku menginjak dewasa
Perubahan yang terjadi begitu beragam
Gaya bicara, cara bergaul
Mulia mengenal apa itu cinta
Pemahaman terhadap hidup yang lebih mendalam
Namun tetap cengeng dan manja
Aku tergagap
Tiba-tiba ulu hati serasa tersayat sembilu
Hanya se BATAS itukah perubahan yang terjadi padaku,
sejak aku dilahirkan...???
Terlalu banyak waktu yang aku sia-siakan
Terlalu mahal kubayar hidup'
hanya dengan kelenaan panjang
Bilakah perubahan hakiki kan terjadi padaku
Bilakah lembaran baru kan terbuka
Hingga ku dapat menorehkan
kisah-kisah berharga didalamnya
Merajut asa tuk masa depan yang masih panjang
"Lia"
Dengan lidah yang teramat kelu
Melihat bayanganku di telaga biru
Silih berganti bayangan itu muncul
Bagai slide show film yang sengaja diputar
Nampak aku diwaktu kecil
Begitu dekil kusam tak terawat
Cengeng dan selalu penuh rasa takut
Amat rapuh mengenaskan
Selalu bertanya-tanya apa itu kehidupan
Saat aku remaja
Mulai tampak perubahan pada tubuhku
Lumayan bersih bercahaya
Mulai berani menatap dan bertanya
Namun masih tetap cengeng pemalu dan manja
Rekaman berganti saat aku menginjak dewasa
Perubahan yang terjadi begitu beragam
Gaya bicara, cara bergaul
Mulia mengenal apa itu cinta
Pemahaman terhadap hidup yang lebih mendalam
Namun tetap cengeng dan manja
Aku tergagap
Tiba-tiba ulu hati serasa tersayat sembilu
Hanya se BATAS itukah perubahan yang terjadi padaku,
sejak aku dilahirkan...???
Terlalu banyak waktu yang aku sia-siakan
Terlalu mahal kubayar hidup'
hanya dengan kelenaan panjang
Bilakah perubahan hakiki kan terjadi padaku
Bilakah lembaran baru kan terbuka
Hingga ku dapat menorehkan
kisah-kisah berharga didalamnya
Merajut asa tuk masa depan yang masih panjang
"Lia"
Antara Tiga Rasa
Arrggcchh....
Rindu, benci dan cinta..
Kata dan rasa yang selalu menghuni hati manusia
Kata dan rasa yang selalu berhubungan
Kata dan rasa yang saling berpagut
Namun ketiganya mempunyai makna
dan rasa yang berbeda
Antara tiga rasa
Mampu merubah insan dengan cepatnya
Tiba-tiba jadi romantis penuh cinta
Kadang bagai orang limbung tak tentu arah
Mendadak menangis histeris menyayat
Dengan roman muka penuh amarah dan dendam
"Lia"
Sejatining Urip
Rindu, benci dan cinta..
Kata dan rasa yang selalu menghuni hati manusia
Kata dan rasa yang selalu berhubungan
Kata dan rasa yang saling berpagut
Namun ketiganya mempunyai makna
dan rasa yang berbeda
Antara tiga rasa
Mampu merubah insan dengan cepatnya
Tiba-tiba jadi romantis penuh cinta
Kadang bagai orang limbung tak tentu arah
Mendadak menangis histeris menyayat
Dengan roman muka penuh amarah dan dendam
"Lia"
Sejatining Urip
Bagai PELITA dan Cahaya
ENGKAU-lah PELITA
dan kami hanya cahaya
Berjuta-juta cahaya
terpancar dari PELITA yang sama
Berganti warna
seiring waktu yang berbeda
PELITA tak pernah berubah
Cahaya bertingkat-tingkat
dengan sesama cahaya
satu lenyap tertindih yang lainnya
melebur menjadi cahaya utama
kemudian lenyap
kembali ke dalam PELITA
ENGKAU-lah sumber cahaya
dan kami hanya salah satu cahaya
dari miliaran pendaran cahaya
dan kami hanya cahaya
Berjuta-juta cahaya
terpancar dari PELITA yang sama
Berganti warna
seiring waktu yang berbeda
PELITA tak pernah berubah
Cahaya bertingkat-tingkat
dengan sesama cahaya
satu lenyap tertindih yang lainnya
melebur menjadi cahaya utama
kemudian lenyap
kembali ke dalam PELITA
ENGKAU-lah sumber cahaya
dan kami hanya salah satu cahaya
dari miliaran pendaran cahaya
yang terpancar dari Sang PELITA
"Lia"
By Agus Mustofa
"Lia"
By Agus Mustofa
Kulminasi Penantian
Aku tlah benar-benar jenuh
Berada pada titik kulminasi penantian panjang
Arrcccggghhhh....
Bilakah penantianku usai
Bilakah kelanamu kau hentikan
Aku tak yakin kita mampu menjaga ikrar setia
Banyak hati yang menawarkan
segenggam cintanya pada kita
Banyak kabar negative yang terlontar diantara kita
Hatiku tlah terpasung pada hatimu
Hingga tak mungkin berpaling
Tapi aku sekarang lelah bahkan teramat lelah
Aku tidak lagi yakin pada cinta kita
Oh Semesta...oh Sang Bayu...
Wahai Tuan Sang Penguasa
Beri jawab padaku
Apa yang harus aku lakukan...???
Akankah penantian panjangku sia-sia
"Lia"
Ya Allah beri aku kekuatan
Berada pada titik kulminasi penantian panjang
Arrcccggghhhh....
Bilakah penantianku usai
Bilakah kelanamu kau hentikan
Aku tak yakin kita mampu menjaga ikrar setia
Banyak hati yang menawarkan
segenggam cintanya pada kita
Banyak kabar negative yang terlontar diantara kita
Hatiku tlah terpasung pada hatimu
Hingga tak mungkin berpaling
Tapi aku sekarang lelah bahkan teramat lelah
Aku tidak lagi yakin pada cinta kita
Oh Semesta...oh Sang Bayu...
Wahai Tuan Sang Penguasa
Beri jawab padaku
Apa yang harus aku lakukan...???
Akankah penantian panjangku sia-sia
"Lia"
Ya Allah beri aku kekuatan
Pencarianku
Setiap saat aku melakukan pencarian
terhadap eksistensi-Mu
Bisakah aku mengenali-Mu..??
Cara apa yang harus ku tempuh
untuk dapat mengenali-Mu..??
Bukankah Engkau Dzat yang
"Tan Kinaya Ngapa"
yang takkan dapat tergambarkan oleh akalku
Secara harfiah aku memang memiliki naluri
Untuk mencari dan mengenali-Mu
Namun kenyataan berkata lain
Menunjukkan upaya itu seringkali tersesat
Bukan Engkau (Tuhan Allah)
yang aku temui
Melainkan Tuhan-Tuhan yang lain
Ya Robb
Tuntunlah aku tuk menemukan-Mu
Jangan biarkan hamba terlena
dengan kesesatan-kesesatan yang begitu samar
"Lia"
Insyaallah....Amien
terhadap eksistensi-Mu
Bisakah aku mengenali-Mu..??
Cara apa yang harus ku tempuh
untuk dapat mengenali-Mu..??
Bukankah Engkau Dzat yang
"Tan Kinaya Ngapa"
yang takkan dapat tergambarkan oleh akalku
Secara harfiah aku memang memiliki naluri
Untuk mencari dan mengenali-Mu
Namun kenyataan berkata lain
Menunjukkan upaya itu seringkali tersesat
Bukan Engkau (Tuhan Allah)
yang aku temui
Melainkan Tuhan-Tuhan yang lain
Ya Robb
Tuntunlah aku tuk menemukan-Mu
Jangan biarkan hamba terlena
dengan kesesatan-kesesatan yang begitu samar
"Lia"
Insyaallah....Amien
Minggu, 10 Mei 2009
Jauh dan Dekat
Aku jauh Engkau jauh
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berlabuh
Kutipan syair BIMBO membuatku miris
Menampar sisi-sisi dinding hati terdalam
Saat aku menjauhimu
Engkaupun menjauh dariku
Namun Engkau Arrahman Arrahim
Kau biarkan aku tetap menikmati ciptaan-Mu
Menghirup udara, menerima rizqimu
Tanpa sedikitpun Engkau meminta imbalan
Saat aku mendekati-Mu
Engkaupun dngan berlari mendekatiku
Kau beri berpuluh kali lipat anugrah-Mu
Kau berikan kebahagiaan demi kebahagiaan untukku
Kau kabulkan apa yang ku munajatkan
"Lia"
Allahu Akbar
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berlabuh
Kutipan syair BIMBO membuatku miris
Menampar sisi-sisi dinding hati terdalam
Saat aku menjauhimu
Engkaupun menjauh dariku
Namun Engkau Arrahman Arrahim
Kau biarkan aku tetap menikmati ciptaan-Mu
Menghirup udara, menerima rizqimu
Tanpa sedikitpun Engkau meminta imbalan
Saat aku mendekati-Mu
Engkaupun dngan berlari mendekatiku
Kau beri berpuluh kali lipat anugrah-Mu
Kau berikan kebahagiaan demi kebahagiaan untukku
Kau kabulkan apa yang ku munajatkan
"Lia"
Allahu Akbar
Ikhlaskan Aku
Ya Robb...
Ikhlaskan aku menjalani takdirku
Yang begitu memasung keakuanku
Memporandakan mimpi dan asa yang terajut
Ikhlaskan aku melalui penantian panjang
Yang entah kapan kan usai
Walau kutlah amat letih dan tertatih
Aku nanti janji-Mu Ya Robb
Akan ada hikmah yang indah
di balik penantian panjangku
aku percaya Engkau tidak pernah terlelap
Selalu mendengar keluh kesahku
Dalam sujut panjangku
di malam-malam yang begitu sunyi
Ya Robb
Berikanlah aku kesabaran
Berikanlah aku Ridho-Mu
Tuk gapai kebahagiaan
Amien......
"Lia"
Ikhlaskan aku menjalani takdirku
Yang begitu memasung keakuanku
Memporandakan mimpi dan asa yang terajut
Ikhlaskan aku melalui penantian panjang
Yang entah kapan kan usai
Walau kutlah amat letih dan tertatih
Aku nanti janji-Mu Ya Robb
Akan ada hikmah yang indah
di balik penantian panjangku
aku percaya Engkau tidak pernah terlelap
Selalu mendengar keluh kesahku
Dalam sujut panjangku
di malam-malam yang begitu sunyi
Ya Robb
Berikanlah aku kesabaran
Berikanlah aku Ridho-Mu
Tuk gapai kebahagiaan
Amien......
"Lia"
Ibu
Ibu....
Engkau begitu kuat nan sabar
9 bulan kau menggendongku dalam perutmu
Tanpa merasa berat dan malu
Berjuang meregang nyawa menantang maut
Hanya tuk mengenalkanku dunia fana ini
Saat tangisan pertamaku pecah kau menangis haru
mengusap ubun-ubunku
menguntai do'a tuk sejumput asa
Ibu....
Engkau begitu lembut dan penuh kasih
Dari kecil hingga dewasa kau merawatku
Tak ada sepatahpun keluh kesahmu
Senyuman tulus selalu tersungging dibibirmu
Saat ku merajuk kau tau yang kuinginkan
Saat ku sedih terjulur tanganmu memelukku
Ibu....
Engkau wanita terhebat yang kumiliki
Darimu aku mengenal satu persatu fenomena alam
Kau jelaskan perubahan demi perubahan
yang terjadi pada tubuhku
Kau juga menuntunku tuk mengenal Sang Khaliq
Kau juga mengajariku makna kehidupan
Ibu....
Aku masih durhaka kepadamu
Kubalas semua kebaikanmu dengan kenakalan
Ku menyakitimu dengan segudang persoalan
Ijinkan ku bersimpuh di kakimu ibu
Berikan Ridho mu untukku
Hingga ku mampu menggapai surga di kakimu
"Lia"
Love You Mom
Engkau begitu kuat nan sabar
9 bulan kau menggendongku dalam perutmu
Tanpa merasa berat dan malu
Berjuang meregang nyawa menantang maut
Hanya tuk mengenalkanku dunia fana ini
Saat tangisan pertamaku pecah kau menangis haru
mengusap ubun-ubunku
menguntai do'a tuk sejumput asa
Ibu....
Engkau begitu lembut dan penuh kasih
Dari kecil hingga dewasa kau merawatku
Tak ada sepatahpun keluh kesahmu
Senyuman tulus selalu tersungging dibibirmu
Saat ku merajuk kau tau yang kuinginkan
Saat ku sedih terjulur tanganmu memelukku
Ibu....
Engkau wanita terhebat yang kumiliki
Darimu aku mengenal satu persatu fenomena alam
Kau jelaskan perubahan demi perubahan
yang terjadi pada tubuhku
Kau juga menuntunku tuk mengenal Sang Khaliq
Kau juga mengajariku makna kehidupan
Ibu....
Aku masih durhaka kepadamu
Kubalas semua kebaikanmu dengan kenakalan
Ku menyakitimu dengan segudang persoalan
Ijinkan ku bersimpuh di kakimu ibu
Berikan Ridho mu untukku
Hingga ku mampu menggapai surga di kakimu
"Lia"
Love You Mom
Tak Sanggup Berpuisi
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Otakku terasa tumpul membatu
Lidah begitu kelu bagai menelan onak duri
Jemari tak sanggup menorekkan kata
karena mati rasa
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Semesta ikut bergejolak
Sang waktu murka berhenti bergulir seketika
Angin berhenti berhembus
Burung-burung pun tak lagi berkicau merdu
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Jiwa terasa kosong dan hampa
Ruh meregang melesat meninggalkan jasad
Hati tak lagi bening namun berkarat
Hingga tak mampu menjadi cermin
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Sanjak cinta tak lagi tercipta
Karna rasa cinta menghilang entah kemana
Dia tak lagi menjadi penghuni sejati sanubari
Sejumput asapun tak lagi terajut
Tercipta kekakuan dan kebisuan
Tersisa kebekuan dan luka yang makin dalam
"Lia"
Otakku terasa tumpul membatu
Lidah begitu kelu bagai menelan onak duri
Jemari tak sanggup menorekkan kata
karena mati rasa
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Semesta ikut bergejolak
Sang waktu murka berhenti bergulir seketika
Angin berhenti berhembus
Burung-burung pun tak lagi berkicau merdu
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Jiwa terasa kosong dan hampa
Ruh meregang melesat meninggalkan jasad
Hati tak lagi bening namun berkarat
Hingga tak mampu menjadi cermin
Saat aku tak sanggup lagi berpuisi
Sanjak cinta tak lagi tercipta
Karna rasa cinta menghilang entah kemana
Dia tak lagi menjadi penghuni sejati sanubari
Sejumput asapun tak lagi terajut
Tercipta kekakuan dan kebisuan
Tersisa kebekuan dan luka yang makin dalam
"Lia"
Mencarimu
Pagi ini ku kembali mencarimu
diantara puluhan burung-burung beterbangan
Kepak sayapmu tak nampak
Pekik suaramu tetap tak terdengar
Pagi ini terasa tak lengkap tanpa hadirmu
Elang...
Di penghujung langit mana engkau terbang
Sayapku begitu ngilu kukepakkan
Akankah kau tlah berlabuh
Menemukan sarang yang lebih teduh
Tapi mengapa....
Mengapa bukan aku
apa karna ku hanya Pipit Mungil yang rapuh
Aku akan sabar menantimu
Walau itu menambah daftar panjang penantianku
Hingga sepatah kata terucap dari bibirmu
"Lia"
diantara puluhan burung-burung beterbangan
Kepak sayapmu tak nampak
Pekik suaramu tetap tak terdengar
Pagi ini terasa tak lengkap tanpa hadirmu
Elang...
Di penghujung langit mana engkau terbang
Sayapku begitu ngilu kukepakkan
Akankah kau tlah berlabuh
Menemukan sarang yang lebih teduh
Tapi mengapa....
Mengapa bukan aku
apa karna ku hanya Pipit Mungil yang rapuh
Aku akan sabar menantimu
Walau itu menambah daftar panjang penantianku
Hingga sepatah kata terucap dari bibirmu
"Lia"
BATAS Rindu
Rinduku tlah diambang BATAS
Menyesak menyeruak dalam kalbu
Muncul membentuk rona semburat diwajah
Saat mentari muncul
yang terlihat bukan cahaya namun auramu
Pipit pagi berceloteh terdengar bagai derai tawamu
Desauan angin ibarat bisikan cintamu
yang terputar kembali
Rinduku tlah lewati ambang BATAS
Kian menyesak hingga berubah perih dan ngilu
Menjelma membentuk tirai kemuakan dan kebencian
Titik-titik keraguan berpendar kian nyata
Seakan melumat habis rindu membara
Menjadikannya beku dan sedingin salju
"Lia"
Elang bilakah kau akhiri kelanamu
Pipit mungil tlah teramat lelah menanti
Menyesak menyeruak dalam kalbu
Muncul membentuk rona semburat diwajah
Saat mentari muncul
yang terlihat bukan cahaya namun auramu
Pipit pagi berceloteh terdengar bagai derai tawamu
Desauan angin ibarat bisikan cintamu
yang terputar kembali
Rinduku tlah lewati ambang BATAS
Kian menyesak hingga berubah perih dan ngilu
Menjelma membentuk tirai kemuakan dan kebencian
Titik-titik keraguan berpendar kian nyata
Seakan melumat habis rindu membara
Menjadikannya beku dan sedingin salju
"Lia"
Elang bilakah kau akhiri kelanamu
Pipit mungil tlah teramat lelah menanti
Sabtu, 02 Mei 2009
Tanpa Judul
Rona merah senja kembali menggayut diufuk barat
Menelan keangkuhan sang surya
Perlahan gemintang mulai bermunculan
Sang bulanpun dengan pongahnya melenggang diatas langit
Sungguh pemandangan yang amat luar biasa
Aku tertegun
Senyumku tiba-tiba tak berbekas
Tawaku lenyap ditelan gulita malam
Hatiku teriris tercabik
Pandanganku seketika nanar
Keyakinanku akan hadirmu mendadak luruh
Yakinku akan setiamu menguap entah kemana
Akupun tak yakin bisa kembali merajut kain yang tlah hancur
Batinku kembali berteriak
Cinta....Aku ingin tua bersamamu
Merenda hari-hari penuh canda dan tawa
Menatap anak-anak yang kelak meneruskan jejak kita
Tanpa perlu sesaatpun khawatir
Hatimu pergi meninggalkanku
''Lia''
Apakah cemburu mulai mencolek hatiku....
Cemburu itu wajar asal masih dalam BATAS
Menelan keangkuhan sang surya
Perlahan gemintang mulai bermunculan
Sang bulanpun dengan pongahnya melenggang diatas langit
Sungguh pemandangan yang amat luar biasa
Aku tertegun
Senyumku tiba-tiba tak berbekas
Tawaku lenyap ditelan gulita malam
Hatiku teriris tercabik
Pandanganku seketika nanar
Keyakinanku akan hadirmu mendadak luruh
Yakinku akan setiamu menguap entah kemana
Akupun tak yakin bisa kembali merajut kain yang tlah hancur
Batinku kembali berteriak
Cinta....Aku ingin tua bersamamu
Merenda hari-hari penuh canda dan tawa
Menatap anak-anak yang kelak meneruskan jejak kita
Tanpa perlu sesaatpun khawatir
Hatimu pergi meninggalkanku
''Lia''
Apakah cemburu mulai mencolek hatiku....
Cemburu itu wajar asal masih dalam BATAS
Langganan:
Postingan (Atom)